Dari Momen di Tengah Konser menjadi Nada: Begini Cara Sal Priadi Menangkap Inspirasi Lagu
Lagu 'Kultusan', misalnya, lahir dalam periode yang sama dengan 'Ikat Aku di Tulang Belikatmu'. 'Kultusan' sendiri bermula dari kebiasaannya mencari progresi chord yang terdengar enak baginya, bahkan ketika ia tidak tahu nama chord yang sedang ia mainkan.
Soal lirik, Sal tak merasa perlu membuatnya rumit. Yang lebih penting baginya adalah kepekaan terhadap kata, bunyi, dan bagaimana rangkaian kata bisa menyampaikan sesuatu.
Di titik itulah pengalaman sehari-hari menemukan tempatnya: sesuatu yang sederhana bisa menjadi gagasan, sebuah emosi bisa menjadi lirik, dan pertemuan singkat bisa berubah jadi cerita.
| Baca Juga: Aktris Park Eun-bin Rilis Album Pas Momen Ultah, Rayakan 30 Tahun Berkarier
Panggung Digital Membuka Ruang Baru
Sal juga melihat perubahan teknologi turut memperluas ruang bagi musisi muda untuk berkarya dan memperkenalkan diri secara mandiri.
“Saat ini, banyak musisi muda yang berani untuk menuangkan karya musiknya melalui berbagai kanal media sosial, seperti SoundCloud, Spotify, YouTube, dan platform digital lainnya. Bahkan, mereka juga melabeli diri sebagai musisi ‘indie’ atau musisi yang memproduksi karyanya secara mandiri,” kata pemeran Rudi dalam film Monster Pabrik Rambut itu.
Meski begitu, ia meyakini bukan teknologi yang membuat sebuah karya menjadi berarti, melainkan apa yang ingin disampaikan di dalamnya.
Lirik-lirik Sal memang kerap terasa tidak biasa. Bahkan ia sendiri pernah menyebutnya “aneh”.
| Baca Juga: Petra Sihombing Luncurkan Single 'Bangga', Ajak Anak dan Istri Beri Sentuhan Personal
Namun justru dari situ pendengar mendapat ruang untuk menemukan makna mereka sendiri. Lagu 'Ikat Aku di Tulang Belikatmu', misalnya, menggunakan tubuh sebagai simbol kedekatan emosional, sementara 'Amin Paling Serius' membawa cinta ke wilayah keluarga, tanggung jawab, harapan, sekaligus ketakutan akan kehilangan.
Bagi Sal, begitu sebuah lagu selesai, ia tak lagi sepenuhnya menjadi milik penciptanya. Melainkan milik siapa pun yang mendengarkannya, dengan cerita dan makna masing-masing.







