Film 'Beautiful Pain' Jadi Debut Nikita Mirzani sebagai Produser Eksekutif
VIVIA MEDIA — Nikita Mirzani mencoba peran baru di dunia perfilman. Tak hanya tampil sebagai pemain, ia untuk pertama kalinya terlibat sebagai produser eksekutif lewat film drama psikologis 'Beautiful Pain'.
Film yang diproduksi Dapur Film bersama sutradara debutan Dmaz Brodjonegoro itu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Menjelang penayangannya, Beautiful Pain memperkenalkan first-look yang memperlihatkan konflik rumah tangga dengan sejumlah persoalan yang belum terungkap.
Nikita mengaku keterlibatannya di balik layar menjadi langkah baru untuk menyuarakan cerita yang menurutnya penting dibicarakan.
“Melalui film Beautiful Pain, saya akhirnya mengambil langkah baru untuk mendukung sebuah cerita yang penting untuk dibicarakan. Film ini kami buat untuk kita semua yang pernah merasakan disakiti, dan saya berharap film ini dapat menciptakan diskusi yang penting nantinya," ujar Nikita.
| Baca Juga: Setahun Dipenjara, Nikita Mirzani Rindu Pakai Barang Branded
First-look yang dirilis memperlihatkan hubungan antara karakter yang diperankan Raihaanun, Baim Wong, dan Nikita Mirzani. Salah satu gambar memperlihatkan Raihaanun bersama kedua anaknya di tepi pantai. Sementara foto lainnya menampilkan kedekatan Nikita dan Baim dalam suasana yang lebih intim.
Ada pula adegan yang mempertemukan Nikita dan Raihaanun. Potongan gambar tersebut seolah memberikan petunjuk mengenai konflik besar yang menjadi bagian dari cerita.
Lewat cuplikan video perdana, karakter Raihaanun digambarkan tengah menghadapi trauma setelah persoalan rumah tangga yang membuat hidupnya berubah. Ia berusaha memulai kembali kehidupannya bersama anak-anak, sekaligus menghadapi konsekuensi dari keputusan yang telah diambil.
Cerita kemudian berkembang ketika sang tokoh utama harus menghadapi fitnah dan tuduhan pelecehan seksual yang berdampak pada kehidupan pribadi maupun hak asuh anak. Dalam situasi tersebut, ia memilih melawan dan memperjuangkan kembali hak serta kehidupannya.
Film ini mengangkat sejumlah persoalan sensitif, mulai dari KDRT, relasi kuasa, hingga kekerasan seksual. Semua persoalan tersebut ditempatkan dalam kisah seorang perempuan yang berusaha keluar dari trauma dan mendapatkan kembali kendali atas hidupnya.
Dmaz Brodjonegoro mengatakan Beautiful Pain tidak hanya ingin berbicara mengenai luka, tetapi juga keberanian seseorang untuk bangkit setelah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya.
“Beautiful Pain bukan hanya tentang trauma, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara. Saya berharap film ini mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dipercaya, siapa yang dilindungi, dan seperti apa keadilan bagi mereka yang harus memperjuangkannya sendirian," jelas Dimas.
1 2







