Mereka berasal dari India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Korea Selatan, Malaysia hingga sejumlah negara Eropa. Ada 34 warga Australia yang masuk dalam daftar tersebut.

Kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah seorang operator tur Nepal mengatakan 15 warga Australia dalam satu kelompok trekking yang terdiri dari 47 orang masih belum diketahui keberadaannya.

| Baca Juga: Ibunda Meninggal Dunia, Deddy Corbuzier Sempat Larang Heniwaty 'Pergi' Sebelum 98 Tahun

Kelompok tersebut bahkan disebut mencakup dua keluarga dengan anak-anak.

Ekskavator hingga anjing pelacak dikerahkan

Operasi pencarian tidak mudah karena lumpur dan material longsor menutup akses menuju sejumlah lokasi.

Di Tibet, pemerintah mengerahkan hampir 800 petugas darurat, 150 kendaraan, anjing pelacak, perahu cepat hingga drone. Ekskavator dan alat berat juga digunakan untuk membuka jalur yang tertutup material.

Di Nepal, helikopter dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang sulit dilalui. Namun, beberapa lokasi masih terlalu berbahaya untuk didarati karena kondisi medan dan genangan.

| Baca Juga: Skandal Polisi di Jeju: Dari Ratusan Laporan Orang Hilang Hingga Rentetan Penemuan 4 Jenazah

Bukan cuma Nepal dan Tibet yang terdampak

Di sisi China, wilayah Gyirong juga mengalami kerusakan berat. Sebanyak 265 orang dilaporkan masih hilang.

Sementara itu, India turut bersiap menghadapi dampak lanjutan dengan melakukan evakuasi warga di enam distrik di Bihar karena khawatir aliran banjir bergerak ke wilayah tersebut.

Kerusakan di Nepal juga sangat luas. Puluhan kilometer jalan, jembatan, kendaraan, jaringan listrik dan proyek pembangkit listrik ikut terdampak.

Hingga kini, pencarian korban masih berlangsung dan pemerintah memperingatkan adanya risiko bencana susulan akibat material yang masih menyumbat aliran sungai. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: