Namun, seiring ia dewasa dan mulai membaca banyak buku, Hanung menyadari bahwa horor yang terjadi ternyata lebih luas dari sekadar doktrin tersebut.

"Ada pembantaian massal yang luar biasa di Bali, Jawa Timur, Kediri, Jawa Tengah, hingga Sumatera. Korbannya bukan hanya tujuh perwira, tapi juga banyak masyarakat sipil. Ini adalah teror yang nyata. Itulah mengapa saya ingin membuat film horor sejarah," beber sutradara Ipar Adalah Maut.

Alasan Memilih Genre Horor: Risiko Politik dan Pasar Global

Sebelum resmi diproduksi, proyek film ini sempat dipresentasikan di festival film internasional seperti Rotterdam International Film Festival di Eropa dan BIFAN di Korea.

Banyak pihak luar yang mempertanyakan mengapa isu sejarah seserius ini dikemas dalam bentuk horor fiksi, bukan dokumenter. Menjawab hal tersebut, Hanung mengakui adanya risiko besar jika memaksakan genre sejarah murni.

"Jawaban saya sederhana: karena situasi di negara saya saat ini. Membuat film sejarah yang sangat jujur mengenai peristiwa tersebut masih sangat riskan dan berpotensi menimbulkan kontroversi yang besar," jelas suami Zaskia Adya Mecca ini.

"Bukannya diapresiasi, nanti malah bisa memicu kegaduhan. Itulah sebabnya, dalam film ini saya mencoba mengemasnya sebagai fiksi dengan balutan genre horor," ungkapnya jujur.

Lobang Buaya dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga aktor kawakan Mathias Muchus.

| Baca Juga: Reuni dengan Sutradara Squid Game, Lee Byung-hun Bintangi Film Layar Lebar 'K.O. Club'

Film yang bakal 1 Oktober 2026 ini berkisah tentang setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap para tokoh desa.

Korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.

Saat rumor mengenai "Hantu Bolong" merebak dan tensi sosial kian memanas, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus mencari tahu dalang pembantaian tersebut.

1 2 3

Tags: