Baskara Mahendra & Carissa Perusset Ungkap Rumitnya Jadi Suami Istri 'Tak Biasa' di Film 'Lobang Buaya'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Baskara Mahendra dan Carissa Perusset Ungkap Chemistry Tak Biasa di Lobang Buaya.
Keduanya mengungkap proses membangun chemistry yang berbeda dari film pada umumnya karena hubungan karakter Sugeng dan Arum memiliki dinamika yang kompleks dan canggung.
Baskara mengatakan karakter Sugeng menjadi sudut pandang penonton sepanjang film. Sugeng tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga setiap adegan selalu menghadirkan kejutan.
"Film ini mengikuti karakter Sugeng. Jadi Sugeng sama seperti penonton, sama-sama enggak tahu apa yang terjadi dan semuanya sangat tidak bisa diprediksi. Setiap scene selalu berbeda dan sedikit demi sedikit script membuka kejutan yang mencengangkan," jelas Baskara saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026).
| Baca Juga: Bukan Remake G30S/PKI, Hanung Bramantyo Tegaskan Film ‘Lobang Buaya’ Murni Horor Fiksi
Bangun Dinamika Suami Istri yang Kompleks
Meski sudah saling mengenal sebelum syuting, Baskara mengaku dirinya dan Carissa tetap harus mengulik hubungan karakter mereka bersama Hanung Bramantyo.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah membangun dinamika pasangan yang tidak lazim dan jarang ditemui dalam naskah film.
"Sama Caca (Carissa) waktu awal kita bilang, 'Wah, ini kompleks ya ceritanya.' Lalu kita kulik satu per satu sama Mas Hanung, seperti apa kalau mereka ini menikah. Itu bukan sesuatu yang normal terjadi ataupun banyak di skrip-skrip," kata Baskara.
Carissa Perusset mengaku sempat merasa tidak cocok dengan karakter Arum pada hari pertama proses persiapan. Ia kemudian mendapat arahan langsung dari Sutradara Hanung Bramantyo untuk tidak berusaha tampil sempurna.
| Baca Juga: Di Balik Misteri Pembunuhan dan Konspirasi Pejabat Korup, Film 'Lobang Buaya' Rilis Trailer Baru yang Mencekam!
"Day 1 aku gugup banget. Aku bilang ke Mas Hanung, 'Kayaknya ada sesuatu yang enggak klik sama karakter Arum.' Terus Mas Hanung bilang, 'Kamu mencoba untuk trying to be perfect. Stop aja, let go,'" ungkap Carissa.
Arahan tersebut dibantu dengan rangkaian workshop fisik yang memberi ruang bagi para pemain untuk mengeksplorasi karakter mereka secara lebih bebas, terutama hubungan antara Arum dan karakter lainnya.
Workshop Jadi Kunci Chemistry Para Pemain
Carissa menjelaskan chemistry dengan Baskara dibangun melalui workshop bersama empat pemain utama yang dipandu Khiva Iskak. Menariknya, ia menilai hubungan Sugeng dan Arum memang sengaja dibuat terasa canggung.
Chemistry yang tidak romantis dan penuh ketegangan itu menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat hubungan Sugeng dan Arum di Lobang Buaya, sekaligus mendukung atmosfer misteri yang dibangun Hanung Bramantyo sepanjang film.
"Kita workshop bareng berempat. Building chemistry karakter kita memang karena karakter kita agak awkward. Sebenarnya there isn't a lot of chemistry anyways to begin with," tutur Carissa.
Teror Setiap Tanggal 30 : Sejarah Bertransformasi Menjadi Mimpi Buruk
Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini mengambil latar waktu tepat satu tahun sebelum meletusnya tragedi paling berdarah pada 1965.
Alur cerita Lobang Buaya berfokus pada perburuan dingin seorang perwira muda, Letnan Soegeng Baskara Mahendra). Letnan Soegeng diterjunkan langsung ke wilayah terpencil Desa Lobang Buaya untuk mengusut sebuah kasus kriminal besar yang menggetarkan pucuk pimpinan militer.
Satu per satu orang penting dan tokoh berpengaruh di desa tersebut ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan dan sayatan luka bermotif ganjil.
| Baca Juga: Baskara Mahendra Ubah Cara Jalan dan Hitamkan Kulit Demi Peran Film Lobang Buaya
Kengerian semakin memuncak ketika penyelidikan Soegeng membentur satu pola pembantaian yang presisi dan tak pernah meleset satu hari pun: eksekusi maut selalu terjadi tepat setiap tanggal 30 di setiap bulannya.
Film yang akan tayang 1 Oktober 2026 ini dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, hingga Mathias Muchus. (*)







