Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Warga desa hidup dalam jerat paranoia tanpa ujung, sebab ketika kalender mendekati angka 30, aroma kematian seolah telah mengetuk daun pintu rumah mereka tanpa pandang bulu. Siapa pun bisa menjadi korban berikutnya, dan tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk bersembunyi.

Hanung Bramantyo Menegaskan Batas Antara Fiksi dan Tragedi Sejarah

Dalam kesempatan ini, menanggapi sorotan publik seputar pendekatan artistiknya, Hanung Bramantyo secara terbuka menyampaikan bahwa ia memahami pertanyaan mengapa film Lobang Buaya menggunakan genre horor.

Sutradara Hanung Bramantyo
Sutradara Hanung Bramantyo. Foto: Istimewa

Hanung menjelaskan bahwa film ini bukan karya yang mencoba menceritakan kembali tragedi 30 September 1965, apalagi menjadikannya sebagai tontonan horor.

Horor dalam film ini ditegaskan bukan cara sang pembuat film melihat korban tragedi 1965, melainkan sebuah bahasa untuk menggambarkan dendam dan trauma dari sebuah kejahatan yang terjadi dalam dunia fiksi film tersebut.

Ketika alur cerita bergerak menuju 30 September 1965, film ini memasuki wilayah sejarah yang jauh lebih besar daripada kisah para tokoh fiksinya. Hal itu yang membuat Hanung sengaja membuat jarak yang tegas di antara keduanya.

Ia menegaskan tidak ingin berpura-pura bahwa karya fiksinya adalah sebuah kebenaran sejarah.

| Baca Juga: Karakternya Punya Luka Batin, Anya Zen Didampingi Psikolog Saat Syuting 'Lobang Buaya'

"Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius," jelasnya di hadapan para tamu undangan Gala Premiere.

Ia melanjutkan penjelasannya mengenai landasan moral di balik penggarapan cerita.

"Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya," ujarnya.

"Dan ketika film ini sampai pada 30 September 1965, saya ingin penonton berhenti sejenak dan menyadari: bahwa sebuah cerita fiksi sedang berhadapan dengan sebuah tragedi sejarah. Di situlah batas antara fiksi dan sejarah menjadi penting, dan di situlah tanggung jawab saya sebagai pembuat film," jelasnya.

1 2 3

Tags: