Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Trio komedian Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir resmi membagikan pengalaman di balik layar pembuatan film terbaru mereka bertajuk GJLS: Berapi-api. Proyek layar lebar ini tidak hanya menuntut fisik yang prima karena berhadapan langsung dengan api sungguhan, tetapi juga menampilkan pergeseran materi humor yang kini jauh lebih aman ditonton oleh keluarga.

Peluncuran materi official trailer memperlihatkan dinamika pahit-manis perjuangan tiga sahabat masa kecil yang bertekad menjadi petugas pemadam kebakaran (damkar) berwibawa. Namun, setelah melewati penggemblengan keras bersama regu "Algojo Api", trio GJLS justru dihadapkan pada rentetan tugas lapangan yang tidak lazim.

Mereka harus melakoni operasi darurat mengambil rapor anak sekolah dasar hingga misi krusial menyelamatkan kepala komika Yono Bakrie yang tersangkut di jeruji pagar. Di balik adegan kocak tersebut, terselip sisi emosional yang menyentuh para pemeran utamanya.

Kostum 10 Kilogram dan Terpaan Api Nyata

Tantangan utama film ini diakui datang dari aspek teknis. Ananta Rispo membeberkan bahwa para pemain diwajibkan mengenakan perlengkapan asli petugas pemadam kebakaran yang memiliki bobot luar biasa.

| Baca Juga: Barasuara Bongkar Proses Kreatif Lagu 'Api dan Mimpi' untuk OST Film GJLS

"Jadi yang paling challenging ya, kalau buat saya itu adalah ketika kita harus syuting pakai fire jacket-nya punya damkar asli dan itu fire jacket-nya sendiri tuh hampir 10 kilo beratnya. Belum lagi helm dan tabung dan makanya itu lumayan sangat menguras tenaga gitu, jadi sangat challenging," tutur Rispo saat ditemui di Lippo Mall Nusantara, Kamis (1/10/2026).

Selain beban alat, ketiganya harus beradu akting langsung dengan kobaran api di set, bukan sekadar bergantung pada efek visual.

"Kita benar-benar berhadapan dengan api beneran gitu, walaupun ada CGI kan tapi apinya kayak itu api beneran gitu, jadi emang panas banget gitu. Jadi respek buat seluruh damkar di Indonesia," tambah Rispo.

Batasi Improvisasi Komedi

Pada film kali ini, Rispo secara sadar membatasi improvisasi komedi yang kelewat vulgar atau liar. Pengalaman dari film sebelumnya menjadi pelajaran penting baginya agar karyanya kali ini dapat dinikmati lintas generasi tanpa menimbulkan kecanggungan moral di dalam keluarga.

| Baca Juga: Film Garin Nugroho 'Merah Sebelum Fajar' Wakili Indonesia di Tokyo International Film Festival

"Improv-nya lumayan banyak tapi masih berusaha, sebagai Rispo di film masih berusaha untuk santun di film ini. Jadi ya karena itu dia, gua pengin banget punya film apalagi GJLS yang bisa ditonton oleh keluarga. Anak gua nonton, it's okay gitu. Mertua nonton, gua enggak malu gitu," tegas Rispo.

Senada dengan Rispo, Hifdzi Khoir menjelaskan bahwa ruang improvisasi tetap dibuka lebar selama proses pengambilan gambar, meski tetap terikat pada batasan adegan. Improvisasi tersebut kerap menjadi ajang keisengan antarpemain di lokasi syuting.

"Iya, kalau improv sih ya masih ada gitu ya karena biasanya menyesuaikan kayak set-nya kayak apa. Terus juga kadang kala gua sama Rigen nih suka bandel gitu, ngerjain-ngerjain Rispo biasanya gitu, 'Ayo kita bikin Rispo loyo,' gitu dan dia enggak tahu gitu. Jadi kadang-kadang ada surprise-surprise gitu-gitu," ungkap Hifdzi.

Meski demikian, struktur komedi film tetap terjaga solid berkat keterlibatan komika senior Bang Awe dalam fase praproduksi.


"Secara komedi tuh udah udah tahulah arahnya ke mana gitu dan jadi improv-nya tuh enggak terlalu yang ke mana-mana gitu pas take-nya. Script development sama Bang Awe," imbuh Hifdzi. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: