Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Aktor pendatang baru Nandhi Narendra menandai debut aktingnya di layar lebar lewat tantangan yang tidak main-main dalam film horor Rambut Sewu: Satu Langkah Getih.

Nandhi langsung mengemban peran ganda (dual role) dengan spektrum karakter yang bertolak belakang, yakni sebagai manusia biasa yang berprofesi sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) dan sosok entitas gaib mengerikan bernama Dhandhang Gendhing.

Karakter Dhandhang Gendhing sendiri merupakan elemen mistis sentral dalam alur cerita film tersebut yang wujud serta terornya terkuak secara bertahap seiring berjalannya film.

Keterlibatan Nandhi dalam film ini bermula dari proses audisi untuk memerankan karakter makhluk halus. Namun, setelah proses diskusi berjalan, pihak produksi justru mempercayakan satu karakter tambahan kepadanya.

| Baca Juga: Taskya Namya Ungkap Sisi Emosional Jadi Perempuan Tertindas di Film Rambut Sewu

"Ini film perdana saya. Jujur, awalnya saya memang ikut casting untuk peran hantunya. Lalu saat diskusi lebih lanjut, saya juga ditawari untuk memerankan satu karakter lainnya, yaitu Pemimpin Redaksi," ujar Nandhi saat media visit ke redaksi Vivia Media, Jakarta, pekan lalu.

Saat membandingkan kedua karakter tersebut, Nandhi secara tegas mengakui bahwa menghidupkan sosok makhluk gaib jauh lebih menguras tenaga dan kemampuan.

"Wah, pastinya jauh lebih susah memerankan sosok entitas hantunya," ucapnya menambahkan.

Lakoni Aksi Tanpa Stuntman dan Pangkas Berat Badan

Tuntutan peran Dhandhang Gendhing terbukti sangat berat secara fisik. Nandhi memutuskan untuk melakoni seluruh adegan berbahaya tersebut secara mandiri tanpa bantuan pemeran pengganti (stuntman).

| Baca Juga: Film Dewi Siluman Ular: Pesugihan dan Pernikahan Gaib Jadi Awal Munculnya Teror

Konsekuensinya, pria 27 tahun ini, harus menjalani persiapan fisik yang ketat hingga mengalami penurunan berat badan drastis sebelum proses pengambilan gambar dimulai.

"Iya, tidak pakai pengganti. Karena itu dari awal saya sudah diingatkan untuk menjaga kebugaran fisik (fitness), karena harus bergerak banyak dengan kostum yang sangat berat. Saya ingat banget, berat badan turun sekitar 6 sampai 7 kilogram dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan sebelum syuting," beber Nandhi.

Terkait konsep hantu tersebut, Nandhi menjelaskan bahwa Dhandhang Gendhing bukanlah monster biasa yang menyerang korbannya secara fisik, melainkan sosok entitas kuno yang dihidupkan kembali.

"Monster tersebut biasanya melukai secara fisik atau kehadirannya langsung bersifat fisik. Di sini menariknya, Dhandhang Gendhing hadir lebih sebagai force of nature. Dia membawa malapetaka hanya lewat keberadaannya yang merusak banyak hal," paparnya.


Eksplorasi Dua Peran

Memerankan dua entitas yang berbeda menuntut eksplorasi akting yang sangat kontras. Jika peran Pemred dibatasi oleh realisme manusiawi, peran Dhandhang Gendhing justru bertumpu penuh pada bahasa tubuh yang dinamis dan terstruktur.

"Karakter manusia kan aktingnya ada keterbatasannya dan cara kerjanya tersendiri. Sedangkan akting sebagai hantu atau sosok entitas itu jauh lebih fisik," kata pria asal Surabaya ini.

"Kita lebih banyak bergerak. Saya ingat sekali masukan dari sutradara, gerakan tangan harus pas saat memutar, lalu jarinya dipastikan bergerak patah-patah dan jangan pernah berhenti," lanjut Nandhi menceritakan instruksi teknis sutradara Hanny R Saputra di lokasi syuting.

Tantangan gerak tersebut kian berlipat ganda mengingat kostum yang dikenakan menutupi seluruh tubuh dengan helaian rambut lebat menyerupai representasi judul "Rambut Sewu". Kostum rambut tersebut memiliki bobot mencapai 10 kilogram.

| Baca Juga: Comeback Main Sinetron, Dewi Perssik Akui Grogi Perankan Karakter Melodi

Tak hanya itu, Nandhi yang memiliki tinggi asli 190 cm dipasangi sepatu suspensi (platform) setinggi 30 cm dengan bobot masing-masing 2–3 kilogram yang dirancang menyerupai telapak kaki kerbau. Alhasil, postur tubuh Nandhi melonjak drastis hingga mencapai sekitar 2,5 meter di depan kamera.

Proses transformasi fisiknya pun menyita waktu produksi yang panjang di ruang rias. Proses makeup-nya saat tes syuting itu hampir 2,5 jam. Namun, seiring berjalannya waktu karena tim makeup dan wardrobe sudah semakin ahli, di hari terakhir syuting hanya memakan waktu 1 jam.

"Oh iya, saya pulangnya subuh (datang paling awal dan pulang paling akhir)," ungkap Nandhi sembari tertawa.

Penglihatan sang aktor juga ikut terdistorsi akibat pemakaian lensa kontak khusus berukuran tebal. "Rasanya seperti memakai kacamata hitam yang bernuansa merah. Jadi pandangan kita terasa gelap seperti pakai kacamata hitam, tapi dengan tone warna merah," tambahnya.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Bidik Oscar 2027, Kamila Andini Minta Dukungan Pecinta Film Lokal

Nyaris Timpa Lawan Main di Lokasi Syuting

Kombinasi antara kostum seberat belasan kilogram, jarak pandang yang terbatas, serta medan syuting outdoor yang licin sempat memicu insiden berbahaya di hari-hari terakhir produksi. Nandhi nyaris mengalami kecelakaan fatal yang berisiko mencederai lawan mainnya, Tasyka Namya.

"Pernah, di hari-hari terakhir syuting di medan luar ruangan yang penuh tanah dan akar pohon, saya sempat oleng dan hampir jatuh menimpa lawan main Taskya Namya. Saat itu saya refleks berusaha sekuat tenaga membuang arah jatuh ke samping kanan," tutur Nandhi mengenang momen mencekam tersebut.

Pria yang sedang menempuh program pasca sarjana jurusan Arsitektur di Universitas Indonesia (UI) ini menyadari benturan tubuhnya yang berbobot ekstra dapat berakibat fatal jika ia tidak segera membuang badan ke arah lain.

"Kalau sampai menimpa dia dengan kostum dan sepatu seberat itu, bisa bahaya sekali dan proses syuting bisa langsung terhenti. Untung selamat," tutup Nandhi mengakhiri ceritanya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: