Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Sebelum mendapatkan peran tersebut, Beni harus melalui proses casting. Bahkan, sebelum tiba di lokasi casting, ia sudah memikirkan kemungkinan tidak mendapatkan peran Ale.

"Aku masuk ke project ini lewat casting. Bahkan sebelum nyampe ke tempatnya, di pikiran aku adalah, ‘Kayaknya kalau aku enggak dapat peran ini, hidupku lebih tenang deh kayaknya,’” tuturnya.

Perasaan tersebut muncul karena Beni menyadari bahwa mendapatkan peran utama berarti menerima tanggung jawab besar yang harus diselesaikan.

“Sampai sedeg-degan itu. Karena kalau aku dapat, berarti ada beban dan kewajiban yang harus aku selesaikan, kan. Tapi ketika mendapatkan perannya, jujur happy banget,” katanya.

| Baca Juga: Reza Rahadian Garap Film 'Casparina', Kisah Neneknya yang Lama Hidup dalam Pengasingan

Konsultasi dengan Teman Psikolog untuk Mendalami Karakter Ale

Mengingat besarnya tanggung jawab sebagai pemeran utama, Beni juga melakukan sejumlah persiapan untuk memahami kondisi psikologis Ale. Salah satu langkah yang dilakukannya adalah berdiskusi dengan teman yang memiliki latar belakang di bidang psikologi.

Namun, persiapan Beni ternyata dimulai dari hal sederhana yang tidak boleh diabaikan sebelum menjalani proses syuting, yakni sarapan.

“Paling sebelum syuting sarapan sih. Minimal asam lambung aman lah ya, itu pondasi. Kalau nervous terus enggak sarapan bisa bahaya,” katanya.

Di luar persiapan fisik, Beni berusaha memastikan bahwa pengalaman dan kondisi yang dialami Ale dapat dipahami secara realistis. Ia mengaku sempat meragukan beberapa situasi dalam cerita karena belum pernah mengalaminya sendiri.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Bersaing untuk Oscar 2027, Kamila Andini Buktikan Cerita Perempuan Indonesia Layak Dapat Panggung Dunia

“Kebetulan aku juga temenan sama orang di bidang psikologi, aku menanyakan apakah yang dialami Ale ini realistis,” ujarnya.

1 2 3 4

Tags: