Kucing Alami Gangguan Pernapasan Akibat Karhutla? Begini Langkah Penanganannya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia bukan hanya berdampak pada kehidupan manusia, tetapi juga satwa liar maupun hewan peliharaan, termasuk kucing.
Beberapa waktu belakangan, beberapa pengguna media sosial memperlihatkan kondisi kucing kesayangan mereka yang mengalami gangguan pernapasan akibat terlalu sering menghirup asap.
Lantas, gejala apa saja yang perlu diwaspadai dan bagaimana langkah penanganannya?
| Baca Juga: Jangan Disepelekan, 5 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Umur Kucing Lebih Pendek
Asap Kebakaran Mengandung Zat Beracun
Asap kebakaran mengandung berbagai zat berbahaya, seperti Karbon Monoksida (CO), Hidrogen Sianida (HCN), dan iritan kimia lainnya. Zat-zat tersebut dapat berdampak pada saluran pernapasan, paru-paru, dan kesehatan hewan secara keseluruhan.
Kucing yang menghirup asap bukan hanya berisiko mengalami gangguan pernapasan. Paparan asap dalam jumlah besar atau waktu yang terlalu lama dapat meningkatkan risiko cedera serius dan komplikasi.
Beberapa risiko yang mungkin terjadi, antara lain kerusakan lapisan saluran pernapasan, pneumonia, gangguan saraf, dan penurunan fungsi otak yang menyebabkan perubahan perilaku, kesulitan berjalan, hingga kejang.
Gejala yang Harus Diperhatikan
Melansir VCA Animal Hospitals, Selasa (13/10/2026), gejala kucing yang keracunan asap beragam, bergantung pada tingkat paparan dan kondisi si anabul.
| Baca Juga: Kucing Suka Pup di Lantai dan Kasur? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui
Beberapa gejala yang dapat terjadi, antara lain:
1. Gangguan pernapasan seperti batuk, tersedak, bernapas lebih cepat, suara mengi (wheezing atau suara seperti siulan), dan gerakan menjulurkan leher seolah kesulitan mengambil napas.
2. Iritasi dan cedera mata. Mata kucing memerah, meradang, atau terasa sakit sehingga mereka menyipitkan mata.
3. Luka bakar di wajah dan hidung yang muncul disertai lepuhan atau cairan dari lubang hidung
4. Dalam beberapa kasus berat, kucing dalam mengalami kelemahan fisik, gangguan koordinasi tubuh, kejang, muntah, produksi air liur berlebihan, hingga penurunan kesadaran.
Sementara laman Petsvetcheck menyebut gejala juga dapat meliputi perubahan warna gusi yang tampak pucat atau kebiruan akibat gangguan oksigenasi. Gusi berwarna merah ceri dapat menjadi tanda keracunan karbon monoksida.
| Baca Juga: Pelihara 24 Ekor, Begini Cara Tiara Andini Merawat Kucing Kampung dan Ras
Apa yang Harus Dilakukan?
Menurut dokter hewan Dr. Veronica Higgs, DVM dalam tulisannya yang diunggah ke laman PetMD pada 2025, hal yang utama dilakukan adalah memindahkan kucing ke area dengan udara yang lebih bersih, jika aman dan memungkinan.
Ia juga menyarankan untuk menjaga kucing tetap hangat dan kering. Jika kucing mengalami kesulitan bernapas, jangan memberikannya obat secara sembarangan dan jangan memaksa anabul untuk makan atau minum.
Pemilik juga dapat menempatkan kucing di dalam ruangan serta mengatur AC dan ventilasi untuk mengurasi masuknya udara luar yang tercemar asap.
Namun, yang paling terpenting adalah segera membawa kucing ke dokter hewan untuk mendapatkan penanganan, sehingga gejala tidak semakin parah.
Penanganannya meliputi terapi oksigen, pemberian antibiotik, cairan infus, dan obat tambahan lainnya. (*)







