Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Kekayaan tekstil tradisional dan kreativitas desainer menjadi modal industri mode Indonesia untuk bersaing secara global. Namun, potensi itu tidak otomatis membawa karya lokal ke panggung internasional.

Regenerasi perancang, kualitas produk, dan strategi memperkenalkan wastra Nusantara masih menjadi tantangan.

Upaya menjawabnya terlihat dalam Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 yang digelar 26 Oktober hingga 1 November 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan. Memasuki tahun ke-18, JFW mengusung tema City of New Lights.

Direktur Kreatif JFW Rd. Andandika Surasetja menegaskan regenerasi menjadi landasan utama.

“DNA Jakarta Fashion Week sejak didirikan adalah regenerasi, dan kuncinya itu adalah kompetisi,” ujarnya saat kick-off di Eden Pan Pacific Jakarta, Selasa (13/10).

| Baca Juga: Gaya Elegan Fan Bingbing, Kenakan Gaun Rancangan Yogie Pratama di Marie Claire Star Awards 2026

Pada JFW 2027, Lomba Perancang Mode Menswear diikuti delapan finalis, sedangkan Lomba Perancang Aksesori, yang memasuki penyelenggaraan ke-46, diikuti sembilan finalis.

Pembinaan juga berjalan lewat Fashion Force Forward, yang tahun ini menghadirkan label aksesori Malaysia setelah melibatkan label Singapura tahun lalu, serta Jakarta Fashion Force Academy.

Di sisi wastra, Kementerian Pariwisata bersama penyelenggara menghadirkan SEA Waves Initiative, inisiatif diplomasi budaya Asia Tenggara. Programnya terdiri atas SEA Waves Installation di Museum Nasional Indonesia (26 Oktober 2026–8 Januari 2027), yang menampilkan wastra dari 10 negara dan kebaya dari lima negara, serta SEA Fashion Parade pada 1 November 2026 yang menampilkan enam desainer dari Vietnam, Malaysia, Kamboja, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Hafiz Agung Rifai, berharap program ini memberi dampak ekonomi lebih luas bagi pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif.

| Baca Juga: Indah Nada Puspita: Merangkai Cerita, Seni, dan Emosi dalam Balutan Modest Fashion

Untuk pasar global, JFW 2027 menjadi mitra resmi Tranoï Paris dan Riyadh Fashion Week, yang membuka peluang paviliun khusus Indonesia.

Chairwoman JFW Svida Alisjahbana menyebut desainer yang dibawa akan dikurasi ketat. Menurutnya, “hulu dari industri fesyen itu adalah wastra,” sehingga pengembangannya butuh inovasi dan strategi pemasaran.

Pertukaran desainer juga berlanjut: lewat kolaborasi dengan KOCCA Korea, Aesthetic Treasure dan Gelap Ruang Jiwa dijadwalkan tampil di Seoul Fashion Week, sementara AMW dan Studio JJ telah berpartisipasi dalam kegiatan di Australia.

Ekosistem pendukung pun dilibatkan, antara lain lewat BTN Fashion Lab yang mempertemukan desainer dengan UMKM dan pengrajin, serta model search untuk talenta daerah.

Masa depan mode Indonesia pada akhirnya bergantung pada tiga hal yang saling berkaitan: pembinaan desainer, keterlibatan pengrajin, dan kesiapan bisnis menembus pasar dunia. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: