Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Popok kain pakai ulang Bumbi, sensor tanah Doktertaniku, dan mesin kapsul minuman Never Ordinary Device (NOD) menjadi sorotan dalam CoCreate Pitch 2026 Indonesia di Jakarta, Selasa (13/10). Ketiganya merupakan bagian dari 10 tim yang melaju ke babak final kompetisi inovasi berbasis produk tersebut.

Indonesia untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi ini, yang tahun ini juga diperluas ke Korea Selatan dan Malaysia. Dari lebih dari 5.000 pendaftar, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan rintisan, calon wirausahawan, hingga inovator mahasiswa, sebanyak 10 tim terpilih tampil di babak final.

Kompetisi ini menjadi bagian dari Global Edge Summit 2026, yang mempertemukan pelaku usaha, eksportir, dan investor.

Bumbi: Popok dan Pembalut Pakai Ulang

Celia Siura mengembangkan Bumbi, popok bayi dan pembalut menstruasi berbahan kain yang dapat dicuci berulang kali. Gagasan ini muncul setelah ia melihat tumpukan sampah popok saat berselancar dan menyelam. Inisiatifnya bermula dari kegiatan edukasi lingkungan di Surabaya pada 2021 dan dikembangkan secara komersial pada 2024.

| Baca Juga: Teliti Edamame dan Talas Bogor, Mahasiswa Unej dan IPB Raih Dukungan Riset Pangan Nasional

Celia menyebut sekitar 1,5 juta popok sekali pakai ditemukan di Sungai Brantas setiap hari. Sungai itu menjadi sumber air bagi sekitar 19 juta orang. “Dari situ kami berpikir, bagaimana membuat orang berhenti membuang popok dan beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan?” ujarnya.

Produk saat ini merupakan prototipe ke-17 yang disempurnakan berdasarkan masukan pengguna, terutama agar mudah dicuci dan cepat kering. Sekitar 12.000 bayi dan 3.000 perempuan telah memakainya, dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 produk per bulan yang melibatkan lebih dari 100 orang. Bumbi juga meraih Bloomberg Mayors Challenge 2025 bersama Pemerintah Kota Surabaya.

Doktertaniku: Pupuk Sesuai Kebutuhan Tanah

Gunawan Zuardi menilai produktivitas pertanian tidak cukup ditingkatkan dengan menambah pupuk. “Petani sering memberikan pupuk berdasarkan kebiasaan, bukan hasil pemeriksaan,” ujarnya.

Doktertaniku mengembangkan perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang memakai sensor untuk menganalisis tanah. Hasilnya diolah lewat aplikasi untuk merekomendasikan jenis dan dosis pupuk bagi sekitar 120 jenis tanaman, lengkap dengan informasi cuaca dari BMKG.

| Baca Juga: Debu Semen hingga Mesin Jahit, Dua Seniman Raih Grand Prize Kompetisi Seni Asia Tenggara

1 2

Tags: