Dari Deteksi Polip hingga Hama Sawah, 3 Mahasiswa UPH Manfaatkan Komputasi GPU jadi Inovasi
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Tiga mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) mengembangkan prototipe berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk persoalan di bidang kesehatan, jaringan telekomunikasi, dan pertanian.
Ketiganya memanfaatkan graphics processing unit (GPU) untuk mempercepat proses komputasi yang sebelumnya memakan waktu lama.
Proyek tersebut dipaparkan dalam bincang-bincang Dari Kampus untuk Masa Depan: NVIDIA GeForce RTX 50 Series Perkuat Inovasi AI di Dunia Pendidikan di UPH, Lippo Village Karawaci, Tangerang, Banten, Rabu (14/10).
Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, Adrian Lesmono, menilai mahasiswa perlu didorong bergerak dari sekadar pengguna menjadi pengembang solusi berbasis AI. “Transformasi dari AI user menjadi AI builder perlu dimulai dari kampus. Kami ingin mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga membangun solusi inovatif,” ujarnya.
| Baca Juga: Dari Popok Kain hingga Mesin Kapsul Jamu, Munculnya Inovasi Berangkat dari Masalah Sehari-hari
Salah satu proyek datang dari Ritchie Cedrick Adrian, mahasiswa semester tiga program studi Artificial Intelligence UPH. Bersama timnya, ia meningkatkan kemampuan model AI dalam mendeteksi polip pada usus besar melalui citra medis.
Polip di organ ini berpotensi berkembang menjadi kanker kolorektal, sehingga deteksi dini menjadi penting. Mereka memanfaatkan informasi bayangan pada citra polip, yang dapat memberi gambaran tambahan tentang bentuk dan posisi objek, sebagai masukan bagi model deteksi.
Kendala terbesar Ritchie adalah lamanya pelatihan model. Dengan central processing unit (CPU), satu model membutuhkan sekitar satu hari. Setelah beralih ke GPU, waktunya turun menjadi satu jam 21 menit dalam pengujian yang dipaparkan, atau sekitar 14 hingga 19 kali lebih cepat.
Meski begitu, pendekatan ini masih dalam tahap pengembangan dan bukan pengganti pemeriksaan medis. Ketepatan serta kemungkinan penerapannya di lingkungan klinis masih perlu diuji lebih lanjut.
| Baca Juga: Debu Semen hingga Mesin Jahit, Dua Seniman Raih Grand Prize Kompetisi Seni Asia Tenggara
Persoalan berbeda diangkat Annabel Kineta Jovinne Caron, mahasiswi semester tujuh program studi Informatika UPH. Ia mengembangkan pendekatan komputasi untuk membantu simulasi perencanaan jalur kabel serat optik bawah laut di Selat Makassar.
Jalur kabel tidak bisa ditentukan dengan menarik garis lurus antarpulau, karena kedalaman laut, kemiringan dasar perairan, dan kondisi geografis turut menentukan keamanan pemasangan. Annabel berangkat dari perhatian pada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang masih sulit mengakses internet.
1 2







