Dari Konten YouTube ke Bioskop, Perjalanan Woko Channel dan Mukidi Lewat Film 'Piye To Kih?'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Industri hiburan tanah air kembali diramaikan oleh gelombang kreator lokal yang sukses menembus layar lebar. Kali ini, sorotan tertuju pada Woko Channel, grup komedi asal Kediri, Jawa Timur, yang siap mengocok perut penonton bioskop melalui film terbaru mereka bertajuk Piye To Kih?.
Menggandeng Miracle Pictures, film ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Mukidi dan kawan-kawan setelah sukses mendominasi dunia digital.
Bermula dari Pandemi dan Job Orkes yang Sepi
Banyak yang tidak tahu, kesuksesan Woko Channel saat ini tidak diraih dengan instan. Kanal YouTube yang identik dengan gaya komedi akar rumput dan keseharian masyarakat pedesaan ini berdiri sejak tahun 2018.
Awalnya, sang bintang utama, Heri Chandra atau yang lebih dikenal dengan nama Mukidi, bekerja di bidang properti pernikahan, sementara rekan-rekan lainnya merupakan musisi pengiring dangdut.
| Baca Juga: Woko Channel Debut di Film 'Piye To Kih?', Kisah Cinta Mukidi dan Dara Sarasvati Dibalut Komedi
Namun, hantaman pandemi COVID-19 membuat panggung dan panggilan job musik terpaksa tiada.
Dari situlah titik balik terjadi. Bersama Mas Woko, Pak No, Mas Tebo, dan Pak Ndut, mereka memantapkan diri untuk fokus memproduksi video komedi sketsa berbahasa Jawa setiap hari. Kerja keras tersebut berbuah manis ketika konten mereka mulai "meledak" dan berhasil meraih rekor penonton fantastis hingga 18 juta views untuk satu video.
Butuh Waktu 7 Bulan untuk Terima Tawaran Main Film
Merambah dari YouTube ke layar lebar tentu bukan perkara mudah bagi Mukidi. Ia mengaku sempat merasa takut dan ragu ketika pertama kali ditawari oleh sang sutradara, Ito Mavin, untuk membintangi film Piye To Kih?.
"Pertama ya takut, Pak. Enggak tertarik sama sekali walaupun sudah sering tampil akting di YouTube. Nanti bisa enggak ya? Filmnya bagus enggak ya?" ungkap Mukidi di kantor redaksi Vivia Media Jakarta, mengenang masa-masa awal penawarannya.
1 2







