Kerusuhan Demo Prancis: Balai Kota Berusia 143 Tahun Terbakar dan Ribuan Orang Ditangkap
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Aksi demo yang diikuti ratusan ribu orang di Prancis pada Sabtu (17/10/2026) berujung kericuhan di sejumlah kota.
Protes yang awalnya menyoroti buruknya kondisi sekolah dan kenaikan biaya hidup itu diwarnai penjarahan, pembakaran kendaraan, hingga hancurnya bangunan bersejarah berusia 143 tahun di Limoges.
Demonstrasi nasional tersebut bukan aksi yang muncul begitu saja. Gerakan pelajar telah berlangsung sejak akhir September 2026, sebelum meluas dengan dukungan serikat pekerja, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Dilansir dari Reuters pada Minggu (18/10/2026), sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi berdasarkan perkiraan Kementerian Dalam Negeri Prancis.
| Baca Juga: Andrew Kalaweit Perlihatkan Kondisi Karhutla Kalimantan, Sebut Laporan BNPB Tidak Akurat!
Sementara itu, serikat pekerja CGT (Confederation Generale du Travail) memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang.
Para pelajar memprotes kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang rusak, serta sistem penerimaan mahasiswa yang dianggap membingungkan.
Keluhan tersebut kemudian bertemu dengan persoalan kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup, layanan publik yang memburuk, serta tuntutan peningkatan upah dan pensiun.
Massa menyampaikan tuntutan melalui long march, poster, dan slogan. Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, kelompok lain terlibat bentrokan dengan polisi dan melakukan perusakan.
| Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Padang, 498 Warga Terdampak dan 120 Rumah Terendam
Penjarahan hingga Bangunan Bersejarah Terbakar
Kericuhan meluas ke Paris, Marseille, Lyon, dan sejumlah kota lain. Polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan. Sejumlah peserta juga membakar mobil serta merusak fasilitas umum.
Di Paris, toko pakaian, butik mewah, supermarket, dan gerai telepon menjadi sasaran penjarahan. Di Marseille, sejumlah orang menerobos lobi balai kota, sedangkan kantor pariwisata Lyon terbakar.
Kerusakan yang paling menyita perhatian terjadi di Limoges. Balai kota berusia 143 tahun dilalap api hingga menara jamnya runtuh. Bangunan tersebut merupakan salah satu landmark bersejarah kota yang mengalami kerusakan berat.
Hampir 2.400 Orang Ditangkap
Reuters melaporkan sekitar 2.400 orang telah ditangkap di seluruh Prancis. Hampir 1.000 petugas keamanan dilaporkan terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
| Baca Juga: 30 Tahun Kasus Pembunuhan Tupac Shakur, Keffe D Divonis 40 Tahun Penjara
Presiden Emmanuel Macron mengecam tindakan perusakan dan penjarahan. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Minggu (18/10/2026), ia menegaskan bahwa pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Meski begitu, pemerintah juga menghadapi desakan untuk menanggapi keluhan pelajar dan masyarakat mengenai layanan publik serta biaya hidup.
Warga Mulai Bersihkan Jalanan
Sehari setelah kerusuhan, warga, petugas kebersihan kota, dan pemilik toko mulai membersihkan pecahan kaca, sampah, serta puing-puing di jalanan Paris.
Sejumlah toko yang rusak juga mulai diperiksa untuk mengetahui besarnya kerugian.
Namun, situasi belum sepenuhnya kembali normal. Reuters melaporkan bentrokan susulan masih terjadi di Paris dan Marseille pada Minggu (18/10/2026). (*)







