Nina Nugroho Angkat Tenun Makassar ke Panggung Mode, Bawa Pesan Perempuan Berdaya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleProses mengembangkan rancangan dan mengeksplorasi warna memakan waktu sekitar tiga bulan. Koleksi ini sekaligus menandai satu dekade perjalanan Nina Nugroho sejak 2016.
Dari sisi siluet, Nina mempertahankan karakter busana profesional Muslimah lewat outer, atasan, celana panjang, dan satu gaun. Busana ini menyasar perempuan profesional yang aktivitasnya tidak lagi sebatas kantor, tetapi juga pertemuan di hotel, acara penghargaan, hingga forum internasional.

“Ini yang bukan baju pesta, tetapi juga bukan baju biasa,” kata Nina. Satu set dapat dikenakan untuk bekerja sejak pagi, lalu ditambah outer agar tampil lebih premium pada acara malam. Untuk mendukung karakter kain, ia memilih material berkilau yang selaras dengan efek shiny pada tenun.
Komitmen Nina kepada perajin juga diwujudkan dengan membeli kain secara langsung atau beli putus setiap kali menyiapkan peragaan. Timnya mengunjungi perajin, bahkan dalam beberapa kesempatan perajin tidak mengetahui bahwa kainnya akan tampil di panggung mode.
“Saya ingin menghargai karya mereka dengan cara membeli. Pengrajin sudah membuat kain tersebut dengan susah payah,” kata Nina.
Koleksi ini dibuat dalam edisi terbatas, tetapi pesanan lanjutan masih memungkinkan selama bahan kain tersedia. Materialnya berupa sutra, Tenun Sengkang, dan Tenun Lagosi yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).
| Baca Juga: Mother Angel! Pesona Barbara Palvin di Victoria's Secret Fashion Show 2026 Usai Melahirkan
Harga busananya berada di bawah Rp 5 juta, dan Nina menilai nilai sebuah kain tidak semata ditentukan harga jual karena ada keterampilan, waktu, dan upaya penenun di dalamnya.
Pada akhirnya, Nina berharap perempuan yang mengenakan koleksinya sadar bahwa busana itu adalah karya perempuan lain yang layak dihargai. Ia menegaskan, intinya adalah “perempuan support perempuan”, tanpa harus melakukan hal yang sama, tetapi saling mengisi dan membersamai.
Melalui tenun Makassar, Nina ingin mengingatkan bahwa selembar kain menyimpan doa, kerja keras, identitas budaya, dan perjuangan perempuan yang layak diteruskan. (*)







