Michelle Ziudith Kapok Syuting Horor, tapi Kembali Demi 'Alas Roban The Series'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Michelle Ziudith mengaku sempat kapok bermain film horor setelah mengalami ketakutan hingga berbulan-bulan usai syuting film Alas Roban.
Namun, kecintaannya terhadap proyek tersebut membuatnya kembali memerankan Sita dalam serial Alas Roban The Series, yang menghadirkan teror mistis dan mengangkat lebih banyak folklor Jawa.
“Aku pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menjadi bagian dari perjalanan panjangnya Alas Roban. Aku harus ambil, nggak boleh miss karena ini IP-ku,” ujar Michelle kepada media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (18/10/2026).
Aktris 31 tahun ini mengaku awalnya tidak percaya pada hal-hal mistis. Namun, pengalaman selama menjalani syuting film Alas Roban membuat pandangannya berubah. Ia bahkan sempat merasa kapok karena ketakutan yang dialaminya terbawa hingga berbulan-bulan setelah proses syuting berakhir.
| Baca Juga: Tissa Biani Wujudkan Mimpi Masa Kecil Setelah Bintangi 'Oki dan Nirmala'
“Aku berangkatnya dari nggak percaya, sampai akhirnya mengalami beberapa banyak hal yang terjadi di filmnya sendiri. Mungkin aku bilang aku kapok ya,” tutur Michelle.
Saat ditawari kembali terlibat dalam serialnya, Michelle mengaku sempat mengalami konflik batin. Ia membayangkan harus kembali menghadapi berbagai teror selama proses produksi yang berlangsung cukup panjang.
Meski begitu, ia tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Michelle merasa memiliki ikatan emosional dengan Alas Roban dan ingin menjadi bagian dari perjalanan cerita yang lebih luas.
“Aku pikir kayak, ‘Jangan, ini judulku, ini aku sayangi banget.’ Jadi kayak aku harus ikut,” katanya.
| Baca Juga: Jefri Nichol Debut Sinetron di 'Terbaik Itu Kamu', Akui Kesulitan Atur Emosi saat Syuting
Teror Lebih Dalam dan Folklor Jawa
Kekhawatiran Michelle ternyata tidak sepenuhnya berkurang meski format serial dinilai memberinya waktu syuting yang berbeda dari film. Ia menyebut proses produksinya tetap menantang karena kualitas cerita dan visual harus dipertahankan.







