Chef Arnold Blak-blakan Kritik MBG, Singgung soal Prioritas Anggaran hingga Realita Lapangan
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Chef Arnold Poernomo blak-blakan mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui platform Threads. Ia memberikan kritikan pedas terhadap pengelolaan dapur hingga prioritas anggaran.
Chef yang terkenal sebagai juri ajang MasterChef Indonesia itu menyebut MBG dimulai dengan skema yang salah.
Sebagai seseorang yang bergelut di bidang kuliner dan memiliki sejumlah restoran, ia menyebut program tersebut seperti sebuah restoran yang dipaksakan untuk membuka franchise.
"Istilah module restaurant belum siap dan belum mateng untuk di-franchise tapi dipaksa secara massive supaya data ke Pak President bagus dan happy," jelasnya dalam unggahan Threads, Rabu (21/10/2026).
| Baca Juga: Kronologi Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Keracunan MBG, SPPG Ditutup Sementara
Menurut Arnold, MBG seharusnya dijalankan dengan sistem terpusat (government centralized), agar seluruh aktivitasnya terkontrol, mampu mengantisipasi inflasi bahan pangan, serta memiliki SOP yang menganut satu komando.

Dalam unggahan lain, Arnold juga menyoroti prioritas belanja Badan Gizi Nasional (BGN). Alih-alih fokus pada pengembangan menu dan pemantauan dapur, anggaran justru digunakan untuk membeli motor listrik hingga smart TV.
Pria berusia 38 tahun itu mengaku sudah pernah memberikan saran agar BGN menerapkan digitalisasi untuk mengatur komposisi gizi, cara memasak dan mengolah, pelacakan harga, hingga CCTV tracker.
Hal lain yang membuat Arnold gregetan adalah food waste yang dihasilkan dapur-dapur MBG. Ia pernah turun langsung ke lapangan dan melihat seberapa banyak bahan makanan yang berujung menjadi sampah.
| Baca Juga: Hanum Mega Klarifikasi Isu Dapur MBG, Sang Ibu Ternyata Jadi Koki dan Sumbangkan Gaji
"Kenapa segregetan itu saya sama MBG? Saya keliling ke lapangan WASTE! SAMPAH! BAHAN SEGER PUN JADI SAMPAH. Itu duit pajak kita," tulisnya.
"Gimana ga bt (bete) dengan program yang saya support bagus IDENYA eksekusi lapangan jauh beda dengan realita," tambahnya.
1 2







