Indonesia Punya Kedai Kopi Terbanyak di Dunia, Ini Cara Memilih Kopi yang Cocok untuk Tubuh
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Indonesia kini menjadi negara dengan kedai kopi terbanyak di dunia. Riset Point of Interest mencatat 461.991 gerai pada 2025. Angka ini menunjukkan betapa lekatnya kopi dengan keseharian masyarakat, terutama generasi muda yang menjadikannya teman bekerja, pengiring obrolan, hingga bentuk self-reward setelah hari yang melelahkan.
Data International Coffee Organization (ICO) memperkuat gambaran tersebut. Konsumsi kopi Indonesia tumbuh 50,02 persen dalam 10 tahun terakhir, ditopang kopi segar, kopi instan, dan kopi siap minum atau ready-to-drink (RTD). Euromonitor juga mencatat pertumbuhan kedai kopi lokal mencapai 16 persen per tahun.
Namun, banyaknya pilihan tidak berarti semua kopi cocok untuk semua orang. Brian Hartono, Senior Brand Manager Golda Coffee, menyarankan pemula memulai dari racikan yang mudah dinikmati.
“Misalnya, cappuccino atau latte. Dari situ, mereka bisa mengenali seleranya sendiri, kemudian perlahan mencoba jenis kopi yang lain,” ujarnya dalam bincang-bincang di Kimaya Hotel Slipi, Jakarta, Rabu (21/10).
| Baca Juga: Bukan Cuma Rasa, Sisca Soewitomo Bongkar 3 Syarat Makanan Enak yang Bikin Laris Manis
Selain selera, karakter biji juga layak diketahui. Arabika cenderung lebih halus dengan aroma beragam, sedangkan robusta umumnya lebih kuat, pahit, dan berkafein lebih tinggi. Meski begitu, hasil akhirnya tetap dipengaruhi proses pengolahan, pemanggangan, dan penyeduhan.
Jaga Asupan Gula
Kandungan gula tak kalah penting, terutama pada kopi susu dan RTD. Konsumen dianjurkan membaca label nilai gizi, termasuk gula per sajian dan jumlah sajian per kemasan. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan asupan gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari, dan angka itu mencakup seluruh makanan dan minuman, bukan hanya kopi.
Bagi pengidap GERD atau lambung sensitif, kopi bercampur susu yang lebih lembut dapat dicoba, tetapi tidak otomatis aman. Respons tubuh tiap orang berbeda, sehingga perlu waspada bila muncul nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada, atau asam lambung naik. Jika keluhan sering berulang, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Soal kafein, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut konsumsi hingga 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif bagi orang dewasa sehat.
| Baca Juga: Barista Kini Tak Hanya Jago Meracik, Kemampuan Bercerita Soal Kopi Juga Penting
Batas ini bukan target. Bagi ibu hamil serta orang yang sensitif terhadap kafein mungkin perlu membatasi lebih jauh. Kafein berlebihan dapat memicu jantung berdebar, gelisah, sakit kepala, hingga gangguan tidur.
1 2





