Samuel Ray Bangga Bukunya Difilmkan, Lutfi Afansyah Ingatkan Jangan Takut Gagal
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Mencari pekerjaan dan bertahan selama masa percobaan (probation) bukan perkara mudah, terutama bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja. Berbagai keresahan tersebut terangkum dalam film 'Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?' yang merupakan adaptasi dari buku berjudul Lagi Probation: Menikmati Perjalanan Mencari Kerja karya Samuel Ray.
Buku itu membahas berbagai tantangan dalam perjalanan mencari pekerjaan, mulai dari menyusun curriculum vitae (CV), menghadapi proses rekrutmen, hingga menegosiasikan kontrak dan gaji.
Melalui adaptasi film, persoalan dunia kerja yang semula disampaikan dalam format pengembangan diri kini dikemas menjadi cerita yang menghibur.
Samuel Ray, penulis, kreator konten, sekaligus praktisi Human Resources (HR), mengaku bangga melihat karyanya diangkat ke layar lebar.
| Baca Juga: Aurora Ribero Rasakan Kerasnya Hidup Kaum Komuter Lewat Film 'Lagi Probation'
Ia tidak menyangka buku nonfiksi yang berisi panduan karier tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah cerita dengan konflik dan unsur komedi.
Bagi Samuel, adaptasi buku menjadi film merupakan sebuah kehormatan sekaligus pengalaman baru. Terlebih, Lagi Probation bukan novel yang sejak awal memiliki alur cerita dan karakter fiksi.
“Sebagai seorang penulis buku, karyanya difilmkan itu salah satu mimpi bagi semua penulis. Bagi saya juga itu sebuah kehormatan,” ujar Samuel di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Ia mengapresiasi BASE Entertainment yang mengembangkan materi buku tersebut menjadi cerita yang lebih menghibur. Menurutnya, proses adaptasi ini memberikan warna baru pada karya yang semula berisi panduan praktis seputar karier.
| Baca Juga: Bintangi Film 'Yang Disebut Nakal' Boris Bokir Kenang Kenakalan Masa Kecilnya
“Bukunya cenderung serius dan cenderung tips-tips karier sebenarnya. Jadi, begitu ada ceritanya, dibuat ada konflik, dan jadi cerita yang menarik, buat saya ini pengalaman yang it's an honor, sebuah kehormatan,"jelasnya.
Berawal dari Curhatan Netizen di Instagram
Buku Lagi Probation ditulis selama kurang lebih tiga bulan pada 2019. Ide penulisannya muncul ketika Samuel kerap berdialog dengan warganet melalui Instagram Story.
Sebagai praktisi HR, ia sering menerima cerita dan pertanyaan dari anak muda yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. Dari berbagai curhatan tersebut, Samuel menyadari perlunya panduan yang dapat membantu mereka memahami proses memasuki dunia kerja.
“Jadi, 2019 saya berdialog dengan netizen, proses curhat karena saya HRD. Mereka cerita macam-macam, saya sadar ini butuh satu guide book, satu panduan buat anak-anak muda yang sedang cari kerja,” tuturnya.
| Baca Juga: Cut Tari Kembali ke Sinetron Setelah 6 Tahun Vakum, Siap Dibenci Penonton
Berbagai pengalaman yang dibagikan warganet kemudian dipadukan dengan pengetahuan dan pengalamannya di bidang HR. Materi tersebut disusun secara sistematis agar pembaca dapat mengikuti tahapan mencari kerja dari awal hingga mendapatkan kesepakatan kerja.
“Curhatan-curhatan yang ada di Instagram Story itu akhirnya ditambahkan dengan knowledge-knowledge sebagai HRD sehingga akhirnya jadi buku. Strukturnya dari awal sampai akhir, mulai bikin CV sampai nego kontrak gaji,” jelas Samuel.
Pembaca Terbantu Mendapatkan Pekerjaan
Respons pembaca menjadi salah satu hal yang membahagiakan bagi Samuel. Hingga kini, ia masih bertemu dengan pengikutnya yang mengaku terbantu oleh buku tersebut dalam perjalanan mencari pekerjaan.
Bahkan, beberapa pembaca datang membawa buku yang sudah lama mereka miliki untuk meminta tanda tangan Samuel. Bagi penulis, pengalaman itu menjadi bukti bahwa panduan praktis yang disusunnya memiliki manfaat nyata bagi pembaca.
“Sampai sekarang saya masih ketemu teman-teman followers yang bukunya sudah kuning, bilang, 'Thank you Ko Sam, tolong tanda tangan buku saya,' karena mereka diterima kerja dengan membaca buku itu,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai dunia kerja tidak hanya relevan sebagai pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi bekal bagi anak muda untuk menghadapi proses rekrutmen dengan lebih siap.
Siapkan Buku Ketiga tentang Keuangan
Setelah menerbitkan Lagi Probation, Samuel melanjutkan pembahasan mengenai kehidupan profesional melalui buku keduanya, Anak Kantoran, yang terbit pada 2023.
Berbeda dari buku pertamanya yang berfokus pada perjalanan mencari pekerjaan, Anak Kantoran menyasar pembaca yang sudah bekerja dan memasuki tahap karier lebih lanjut, termasuk mereka yang memperoleh promosi.
| Baca Juga: Tom Skerritt Meninggal di Usia 93 Tahun, Julia Roberts dan Lauren Holly Berduka
“Jadi, Lagi Probation itu buku pertama. Kemudian di tahun 2023 ada buku kedua, Anak Kantoran, yang lebih fokus ke teman-teman yang sudah dipromosi atau bekerja lebih senior,” jelasnya.
Sejauh ini, Samuel telah menerbitkan dua buku. Ia pun berharap dapat menghadirkan karya ketiga yang membahas pengelolaan keuangan bagi para pekerja kantoran.
“Tahun depan mudah-mudahan ada buku ketiga tentang memanage keuangan dalam dunia kantoran,” katanya.
Lutfi Afansyah: Jangan Takut Menghadapi Kegagalan
Persoalan dunia kerja juga menjadi refleksi bagi Lutfi Afansyah, salah satu pemain film Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?. Dalam pandangan pria yang juga selebgram, kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti mencoba.
| Baca Juga: Gimbap Jadi Onigiri, Ini Perbedaan Remake Jepang 'Extraordinary Attorney Woo'
"Kehidupan sebagai proses probation yang terus berulang. Setiap pengalaman, termasuk kegagalan, dapat menjadi kesempatan untuk belajar, mengevaluasi diri, dan kembali melangkah," jelas Lutfi yang debut akting pertama di film itu.
Pandangan tersebut relevan bagi anak muda yang kerap menghadapi tekanan untuk segera mendapatkan pekerjaan tetap, mencapai target karier, atau memenuhi ekspektasi lingkungan.
Lutfi juga berbagi pengalaman mengenai buku Things That You Can See Only When You Slow Down yang pernah diberikan oleh ibunya. Buku tersebut berkaitan dengan refleksi tentang pentingnya memperlambat langkah dan memberi perhatian pada kehidupan di luar rutinitas.
"Bekerja di industri kreatif tidak selalu memiliki panduan atau jalur karier yang jelas. Kondisi itu dapat membuat seseorang terus mengejar pencapaian tanpa menyadari bahwa ada aspek kehidupan lain yang juga perlu diperhatikan," tutupnya. (*)







