Karena itu, penyelenggaraan JF3 Fashion Festival tahun ini juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengevaluasi berbagai program yang telah berjalan.

Thresia Mareta
Thresia Mareta. Foto: Istimewa

“Banyak sekali perbaikan yang kami lakukan di tahun 2026. Hasilnya tentu baru akan terlihat setelah event berjalan. Kami ingin melihat apakah berbagai improvement yang dilakukan benar-benar membuat program menjadi lebih efektif,” ujarnya.

Kolaborasi Dinilai Menjadi Kunci

Selain kemampuan membaca pasar, Thresia menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing industri fashion Indonesia. Baginya, hubungan antardesainer, institusi pendidikan, pelaku usaha, hingga mitra internasional perlu terus dijaga agar tidak berhenti pada satu kegiatan semata.

Ia berharap berbagai kolaborasi yang terjalin dapat berlanjut setelah sebuah acara berakhir.

| Baca Juga: Gaya Klasik dan Elegan Desainer Vera Wang di Pesta Ulang Tahun ke-77

“Kami mengharapkan sesuatu yang berkelanjutan. Fokus kami bukan sekadar mengadakan event setahun sekali. Setelah acara selesai, bolanya harus terus bergulir sehingga kolaborasi dan koneksi yang terbentuk bisa berlanjut,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar penyelenggaraan JF3 Fashion Festival 2026 yang tahun ini mengangkat tema Recrafted: Shaping the Future. Selain menghadirkan lebih dari 50 desainer dari Indonesia dan berbagai negara, festival tersebut juga menghadirkan program pengembangan talenta, inkubasi, hingga ruang yang mempertemukan desainer dengan pasar sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri fashion Indonesia. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: