Punya Koleksi 17 Ribu Buku, Habib Jafar Bocorkan Karya Favoritnya
Tidak ingin karyanya kehilangan esensi, Habib Jafar turun tangan langsung mengawal proses produksi, terutama pada bagian skenario.
Ia mengungkapkan bahwa penulisan naskah film ini mengalami proses revisi yang sangat panjang hingga belasan kali demi menjaga kualitas visi dari bukunya.
"Saya terlibat langsung dari awal mulai pembicaraan ide, kemudian setiap penulis skenarionya, dari draf 1 sampai draf 14 waktu itu. Saya ingin karya ini betul-betul sesuai dengan visi, sesuai dengan nilai bukunya, tegak lurus dengan visi bukunya," tegasnya.
| Baca Juga: Yuni Jasmine ‘Barbie Dagu Lancip’ Debut Layar Lebar di Film ‘Pemikat Jiwa’
Dakwah Bioskop Terinspirasi Gus Mus dan Quraish Shihab
Langkah Habib Jafar merambah dunia film bukan tanpa alasan. Ia mengaku terinspirasi dari hasil diskusi dengan tokoh-tokoh ulama besar seperti Gus Mus dan Prof. Quraish Shihab mengenai potensi media film sebagai sarana dakwah yang luas.
"Makanya ada obrolan antara Gus Mus, Prof. Quraish Shihab waktu itu, tentang dakwah by film, bikin dakwah melalui layar bioskop. Ini adalah salah satu puncaknya, buku kemudian menjadi karya, katakanlah karya bioskop yang, ya, senang sekali," ungkapnya.
Habib Ja’far berharap penonton tidak hanya sekadar menikmati alur cerita, namun mampu memetik hikmah nyata dari isu-isu yang diangkat, seperti proses menuju kedewasaan, kehilangan orang terkasih, hingga relasi orang tua dan anak.
Toleransi dan Kisah Cinta 'Beda Server'
Film Seni Merayu Tuhan juga menonjolkan nilai inklusivitas dan toleransi yang kuat. Hal ini tercermin dari pemilihan aktor maupun karakter yang diperankan.
Film ini menampilkan keberagaman agama secara nyata, termasuk menghadirkan konflik percintaan beda keyakinan.
“Film ini secara peran bukan hanya peran Muslim. Ada Lutesha yang memerankan karakter perempuan Kristen. Kemudian, pemerannya pun tidak semuanya Muslim. Ada Onad yang Katolik, misalnya. Jadi secara pemeran dan peran pun sangat beragam,” paparnya.



