Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemain, kru produksi, hingga para orang tua yang telah mendukung anak-anak mereka tampil dalam pertunjukan. Menurutnya, keberhasilan malam perdana merupakan hasil kerja kolektif semua pihak yang terlibat.

“Semoga karya ini bisa membahagiakan banyak orang dan membawa kita ke perjalanan yang lebih jauh lagi, tentunya bersama-sama,” harap laki-laki kelahiran Jakarta, 29 Februari 1980 itu.

Ketika MALIQ Menonton MALIQ

Suasana haru juga dirasakan drummer MALIQ & D’Essentials, Widi Puradiredja. Selama menyaksikan pertunjukan, ia beberapa kali menahan air mata melihat perjalanan panjang band yang dibangunnya diterjemahkan menjadi pengalaman teater.

“Terlalu campur aduk perasaannya. Melihat bagaimana perjalanan MALIQ, melihat apa yang kita lakukan selama 24 tahun ini dengan sepenuh hati dan jiwa, ternyata punya arti baru yang berlipat-lipat,” ujar Widi.

Bagi Widi, malam itu terasa seperti pertama kalinya mereka benar-benar menjadi penonton bagi karya mereka sendiri.

| Baca Juga: Kisah Haru Bernadya, Royalti Lagu Pertama Jadi Penyelamat Ekonomi Keluarga saat Pandemi

“Enggak nyangka bahwa ini pertama kali kami nonton MALIQ. Baru kali ini kami bisa merasakan, ‘Oh ternyata MALIQ kalau ada di panggung seperti ini rasanya’,” ungkapnya.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa setiap lagu selalu memiliki kehidupan baru ketika bertemu dengan pendengarnya.

“Kita enggak pernah tahu sebuah lagu akan menjadi momen apa buat orang lain. Bisa jadi lagu yang kita tulis tentang satu hal, tapi bagi pendengar justru mengingatkan mereka pada orang tua, perjuangan hidup, atau masa-masa tertentu,” jelas Widi.

Refleksi tersebut bahkan memengaruhi proses kreatif MALIQ yang kini tengah menyiapkan album ke-10.

“Rasanya setelah pulang dari sini pengin bongkar lagi lagu-lagu yang sedang kami kerjakan. Jadi pengin bikin semuanya lebih baik lagi,” tutur Widi sembari tersenyum.

1 2 3 4 5 6

Tags: