Lenny Agustin: Konsumen Fashion Indonesia Tak Lagi Sama
Menurutnya, pilihan konsumen sangat bergantung pada karakter dan nilai yang mereka anut.
“Bebas aja sih. Jadi tergantung personality-nya,” tuturnya.
Ia melihat sebagian generasi muda justru mulai mengadopsi gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Mereka tidak selalu membeli pakaian baru, tetapi aktif berbelanja di toko thrift maupun bazar pakaian bekas, bahkan menjual kembali pakaian yang sudah tidak digunakan.
“Mereka sangat mendukung sustainability. Jadi sering belanja di thrift. Bahkan mereka rajin mengikuti bazar-bazar thrift juga untuk menjual bajunya mereka kembali. Jadi ada perputaran di situ,” jelasnya.
| Baca Juga: Desainer Indonesia Harus Bangun Bisnis, Bukan Sekadar Berkarya
Fenomena tersebut, menurut Lenny, membuat industri fashion menjadi jauh lebih terbuka. Kini bukan hanya desainer atau pemilik merek yang menjadi pelaku pasar, melainkan juga individu-individu yang memperjualbelikan koleksi pribadinya.
“Sekarang yang bermain bukanlah fast fashion designer atau pemilik brand. Tapi pribadi-pribadi pun juga menjual. Jadi sangat organik,” kata Lenny.
Desainer Harus Punya Identitas yang Kuat
Di tengah semakin padatnya pasar fashion, Lenny menilai tantangan terbesar bagi para desainer bukan lagi sekadar menghasilkan desain yang menarik. Mereka juga harus mampu membangun identitas merek yang jelas agar tidak tenggelam di tengah banyaknya pilihan yang tersedia bagi konsumen.
Menurutnya, setiap desainer perlu terus berinovasi, tetapi tetap menjaga karakter utama produknya.
| Baca Juga: Intip Gaya Para Selebriti saat Menghadiri Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce
“Kreatif tapi juga masih sesuai dengan DNA brand-nya. Dan juga bisa mengeksplorasi tapi nggak lari juga dari brand-nya,” kata Lenny.



