VIVIA MEDIA — Cuaca ekstrem yang melanda China memicu serangkaian bencana mulai dari banjir hingga tanah longsor. Selain itu sekitar 900 ular juga dilaporkan lepas.

Mengutip laporan South China Morning Post pada Selasa (7/7/2026), hewan berdarah dingin itu lepas dari peternakan di Kota Hengzho karena kandangnya rusak diterjang banjir.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga yang berupaya menangkap ular yang berkeliaran di tengah banjir.

Pejabat Desa Wu Zhi mengatakan sebagian besar ular yang kabur merupakan jenis tidak berbisa.

| Baca Juga: Robot Humanoid Joko Prabuwesi Viral, Sukses Bikin Netizen Tertawa

Tim yang terdiri dari 10 orang telah dikerahkan untuk menangkap reptil tersebut menggunakan jaring ikan dan alat kejut listrik.

Warga diminta tidak menangkap ular dengan tangan apabila menemukannya di rumah atau lingkungan sekitar, melainkan segera melapor kepada petugas.

Bencana cuaca ekstrem yang melanda China juga menimbulkan kerusakan luas. Presiden Xi Jinping memerintahkan seluruh pemerintah daerah mengerahkan upaya penyelamatan dan bantuan darurat secara maksimal.

Di Guangxi, status peringatan banjir dinaikkan menjadi level siaga. Otoritas setempat mencatat sedikitnya 70 stasiun pemantauan di 55 sungai menunjukkan permukaan air telah melampaui ambang bahaya.

| Baca Juga: Ternyata ini Penyebab Selebgram Larissa Chou Gugat Cerai Ikram Rosadi

Sungai Qingshui di Guangxi bahkan mencatat banjir terbesar sejak pencatatan dilakukan.

Sementara itu, di Provinsi Guangdong, peringatan banjir merah pertama dikeluarkan untuk wilayah Sungai Barat di Kota Zhaoqing karena permukaan air diperkirakan terus meningkat.

Di Provinsi Gansu, tanah longsor yang dipicu hujan deras menimbun puluhan warga di sebuah desa di Longnan.

Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia setelah berhasil dievakuasi, sementara proses pencarian korban lainnya masih berlangsung.

| Baca Juga: Klub Volinya Raih Juara di Malaysia, Jirayut Dedikasikan Kemenangan untuk Indonesia

Selain banjir dan longsor, angin tornado juga menerjang Provinsi Hubei. Sebanyak 11 orang dilaporkan tewas, satu orang masih hilang, dan sedikitnya 173 warga mengalami luka-luka akibat angin kencang yang merusak rumah hingga lahan pertanian.

Menurut ahli meteorologi Wang Xiaoling, tornado tersebut merupakan kejadian langka yang dipicu oleh interaksi sisa Topan Maysak dengan badai hujan lokal dan massa udara dingin dari timur laut.

Kecepatan anginnya diperkirakan mencapai 40 meter per detik dan disebut kuat untuk membalikkan kendaraan.

Hingga Selasa, lebih dari 3.500 personel penyelamat telah dikerahkan di Hubei untuk membantu evakuasi dan penanganan bencana.

Di media sosial, ribuan warga dari Guangxi mengunggah permintaan bantuan. Sejumlah rumah sakit dilaporkan kekurangan tenaga medis, sementara banyak daerah mengalami pemadaman listrik, krisis air bersih, dan kekurangan pasokan makanan akibat banjir. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: