Hampir setiap momen canggung yang Kang Joon-woo alami terasa menghibur tanpa harus terpaksa. Saat film mulai memasuki sisi dramatis, Kwang Soo tetap mampu menghadirkan emosi, meski persona komedinya yang begitu melekat membuat beberapa adegan sedih tidak sepenuhnya menghantam perasaan penonton

Dari sisi lain, Hoang Ha tampil cukup natural sebagai Thao. Karakternya memang tertulis sebagai sosok yang lembut dan tenang, tetapi pendekatan tersebut membuat ekspresinya cenderung datar di banyak adegan. Chemistry keduanya tetap terasa hangat berkat interaksi sehari-hari yang sederhana, namun secara keseluruhan Lee Kwang Soo tetap menjadi pusat perhatian dan tampil jauh lebih dominan.

Ho Chi Minh City dan Budaya Kopi Jadi Nilai Tambah

Selain chemistry kedua pemainnya, aspek visual menjadi kekuatan lain yang ada di Love Barista. Film ini memanfaatkan Ho Chi Minh City bukan sekadar sebagai lokasi syuting, melainkan bagian dari identitas cerita.

| Baca Juga: Diana Pungky Debut Layar Lebar Lewat Film ‘5 cm: Revolusi Hati’

Berbagai sudut kota, kehidupan jalanan, deretan coffee shop, hingga atmosfer perkotaannya ditampilkan dengan visual yang hangat dan nyaman dipandang.

Menariknya, film juga memperkenalkan kultur kopi Vietnam sebagai bagian penting dalam cerita.

Lewat karakter Thao yang berprofesi sebagai barista sekaligus pernah menjuarai kompetisi dunia, Love Barista menunjukkan bahwa kopi bukan hanya pelengkap cerita. Tetapi menjadi bagian dari identitas budaya yang membentuk perjalanan kedua karakter. Pendekatan ini membuat Ho Chi Minh City terasa hidup dan memiliki peran tersendiri di dalam film. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: