FFW 2026 Abadikan Nama Wina Armada Sukardi untuk Penghargaan Kritik Film Terbaik
VIVIA MEDIA — Festival Film Wartawan (FFW) 2026 menghadirkan momen bersejarah dengan mengabadikan nama Wina Armada Sukardi sebagai nama penghargaan untuk kategori Kritik Film Terbaik.
Keputusan ini menjadi bentuk penghormatan kepada sosok wartawan dan kritikus film legendaris yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia perfilman Indonesia.
Peluncuran FFW 2026 yang berlangsung di Studio CGV FX Jakarta pada Selasa (14/7) mengusung semangat "Dari Wartawan untuk Insan Film Indonesia". Tak hanya menjadi ajang apresiasi bagi karya sinema, festival ini juga ingin menghidupkan kembali tradisi kritik film yang jujur, tajam, dan membangun.
Ketua FFW 2026, Benny Benke, menegaskan bahwa pemilihan nama Wina Armada Sukardi bukan sekadar penghormatan simbolis, melainkan memiliki akar sejarah yang kuat dalam dunia jurnalistik perfilman Indonesia.
| Baca Juga: Komite Juri FFW Resmi Terbentuk, Kementerian Kebudayaan Siap Jadi Fasilitator
"Nama ini tidak jatuh dari langit. Di tahun 1980-an, saat lomba kritik masih bernama Piala Mitra yang sekarang menjadi Piala Citra, beliau sudah dua kali membuktikan bahwa tulisan adalah kekuatan. Nama Wina Armada Sukardi pun layak diingat sebagai bukti bahwa kritik yang baik lahir dari dedikasi seumur hidup," ujar Benny.
Menurutnya, penghargaan ini diharapkan mampu memotivasi lahirnya generasi baru penulis kritik film yang memiliki kualitas analisis tinggi sekaligus mampu memberikan perspektif baru bagi perkembangan sinema nasional.
Untuk menjaga independensi dan objektivitas, FFW 2026 menerapkan sistem penjurian secara anonim. Seluruh identitas penulis akan disembunyikan sebelum naskah diberikan kepada dewan juri.
"Siapa pun boleh mengirim tulisan. Nama penulis akan kami tutup rapat saat diserahkan pada dewan juri. Yang dinilai adalah isi dan ketulusan tulisan," tegas Benny.
| Baca Juga: Tantangan Baru Unang Bagito dan Bukie Mansyur di Film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula
Sistem ini diharapkan memberi kesempatan yang sama bagi seluruh peserta tanpa memandang latar belakang maupun popularitas penulis.
Suasana haru terasa ketika Amalia Wina Armada, istri almarhum, menerima penghargaan simbolis atas nama keluarganya. Dengan penuh haru, ia menyampaikan pesan yang selama ini selalu dipegang teguh oleh sang suami mengenai makna kritik film.
"Seandainya Mas Wina masih ada, mungkin beliau akan menolak namanya diabadikan begini. Tapi bagi kami, ini kehormatan luar biasa. Beliau selalu berpesan: film butuh kritik, tapi kritiklah yang membangun. Tulislah dengan jujur, kritiklah dengan cinta. Hari ini namanya akan disebut setiap tahun, artinya semangatnya tak akan pernah mati," ungkap Amalia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kritik bukanlah untuk menjatuhkan karya, melainkan menjadi ruang dialog yang sehat demi kemajuan industri perfilman Indonesia.
| Baca Juga: 'Michael' Cetak Rekor, Jadi Film Biopik Pertama Tembus 1 Miliar Dolar
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menilai Festival Film Wartawan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem perfilman Indonesia.
"Ada dua peran krusial FFW, ajang ini menantang sineas berani melangkah lebih jauh, sekaligus merawat cara kita memahami apa yang kita tonton," katanya.
Ia juga menyebut industri film Indonesia kini mulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
"Pencapaian ini tentu merupakan hasil kontribusi banyak pihak, salah satunya adalah peran Festival Film Wartawan dan para jurnalis film," tambahnya.
| Baca Juga: Ada Lagu ‘MBG’ di Film Cek Khodam, Sutradara Beri Penjelasan Ini
Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menegaskan pemerintah akan terus memberikan dukungan kepada berbagai festival film di Indonesia, baik yang berskala besar maupun komunitas.
"Kami tidak membeda-bedakan skala. Mulai dari festival besar hingga komunitas kecil di pelosok, semuanya kami dukung sebisa kami. Karena kemajuan film adalah kemajuan kita semua," ujarnya.
Peluncuran FFW 2026 ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada Ahmad Mahendra, Irini Dewi Wanti, serta Ketua PWI Jaya, Kesit B. Handoyo.
Momen tersebut menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah, insan pers, dan pelaku industri film dalam membangun ekosistem perfilman nasional yang semakin sehat, kritis, dan mampu bersaing di tingkat global. (*)







