Momen ketika musik tiba-tiba berhenti dan Afgan bersama seluruh personel orkestra serempak melepas kacamata, disambut tepuk tangan panjang penonton.

"Konser ini merupakan selebrasi atas semua perjalanan yang telah kita lewati bersama, baik, buruk, hal menyenangkan, hal yang menyedihkan, dan semua rasa," kata Afgan.

Kolaborasi Lintas Generasi

Kris Dayanti, salah satu inspirasi Afgan, tampil dalam Medley Duet Sessions membawakan “Kepastian”, “Kamu Yang Ku Tunggu”, “Percayalah”, dan “Ada” dengan aransemen orkestra.

| Baca Juga: Kahitna Siapkan Konser 40 Tahun, Bakal Jadi Momen Spesial Untuk Para Soulmate

Nuansa konser kemudian bergeser lebih emosional lewat lagu-lagu patah hati. Mahalini tampil membawakan “Sadis”, sementara Petra Sihombing menghadirkan “Peluk” diiringi gitar akustik dan paduan suara Paragita UI.

Momen epik makin terasa saat ribuan penonton menyalakan lampu flash ponsel hingga Plenary Hall berubah jadi lautan cahaya.

Afgan saat tampil bersama Mahalini. Foto: Istimewa

Konser ini juga menjadi panggung pertama Afgan memperkenalkan format mashup, menggabungkan beberapa lagu menjadi satu rangkaian musikal sebagai simbol kesinambungan karyanya selama 18 tahun.

Momen paling emosional datang saat Afgan membawakan “Sampai Jumpa” sebagai penghormatan untuk mendiang sahabatnya, Vidi Aldiano, sebelum konser ditutup dengan “Kacamata” dan “Jodoh Pasti Bertemu”.

| Baca Juga: Project Pop Rayakan 30 Tahun Lewat Konser, Tampil Dengan Konsep K-Pop

Kolaborasi di Balik Layar

Creative Director Shadtoto Prasetio merancang konsep Grand Symphonic Universe dengan menonjolkan sisi personal Afgan lewat perpaduan musik, visual, dan storytelling.

1 2 3

Tags: