VIVIA MEDIA — Pagi hari, meja makan menjadi tempat sarapan sekaligus ruang belajar anak. Beberapa jam kemudian, permukaannya berubah menjadi meja kerja untuk mengikuti rapat daring. Menjelang sore, dokumen dan laptop disingkirkan, digantikan buku gambar, mainan, atau aktivitas keluarga.

Pemandangan seperti itu kini semakin sering ditemui di banyak rumah. Ruang yang sebelumnya memiliki fungsi tunggal perlahan berubah menjadi ruang multifungsi karena kebutuhan penghuni terus meningkat.

Kamar tidur tidak lagi hanya menjadi tempat beristirahat, sudut ruang keluarga dapat berubah menjadi area bekerja, bahkan lorong kecil yang dulu hanya menjadi jalur penghubung mulai dimanfaatkan untuk menyimpan barang sehari-hari.

Perubahan ini bukan semata-mata terjadi karena ukuran rumah yang terbatas. Cara penghuni rumah menjalani kehidupan juga ikut berubah.

| Baca Juga: Tiga Tahun Konsisten, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Tekuni Dunia Lari

Aktivitas yang sebelumnya dilakukan di luar rumah kini semakin banyak berpindah ke dalam, membuat setiap sudut hunian harus mampu mengikuti ritme penghuninya. Akibatnya, banyak orang merasa rumah mereka semakin sempit, meski apakah persoalannya benar-benar terletak pada luas bangunan masih patut dipertanyakan.

Interior Design Leader IKEA Indonesia, Alfinda Krista Rahardyana, melihat persoalan itu dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, yang berubah bukan ukuran rumah, melainkan cara penghuni menggunakan ruang yang tersedia.

"Yang sering kami lihat, orang merasa rumahnya sudah tidak cukup. Padahal yang berubah sebenarnya bukan ukuran rumahnya, tetapi cara mereka menggunakan ruang di dalamnya," ujar Alfinda saat berbincang mengenai tema Luangkan Ruang di IKEA Alam Sutera, Tangerang, baru-baru ini.

Perubahan fungsi ruang, kata Alfinda, adalah bagian alami perjalanan keluarga. Rumah yang awalnya dihuni pasangan berubah kebutuhannya ketika anak lahir, lalu bergeser lagi saat anak sekolah atau orang tua bekerja dari rumah. Rumah tidak pernah benar-benar selesai, ia terus beradaptasi mengikuti kehidupan penghuninya.

| Baca Juga: Pulih dari Stroke, Betharia Sonata Rajin Jalan 5 Km Setiap Hari

Solusinya, menurut Alfinda, tidak selalu berupa renovasi atau penambahan luas bangunan.

"Yang penting bukan seberapa besar rumahnya, tetapi bagaimana ruang yang ada bisa mengikuti cara penghuninya hidup. Kadang yang dibutuhkan bukan membuat ruangan baru, tetapi melihat kembali apa yang memang diperlukan," jelasnya.

1 2 3

Tags: