Kamar tidur bisa mendukung lebih dari satu aktivitas, sementara lorong yang sering terabaikan dapat menjadi titik penyimpanan tas, sepatu, atau helm.

Langkah awal menata rumah, lanjutnya, bukan membeli furnitur baru, melainkan memahami kebiasaan penghuni. "Kita lihat aktivitasnya lebih dulu. Sebelum tidur orang biasanya melakukan apa, ketika bangun apa yang pertama dicari, dari situ baru kita lihat ruang seperti apa yang dibutuhkan," katanya.

| Baca Juga: Jangan Asal Checkout! Abel Cantika Bongkar Cara Jadi Smart Shopper

Tidak ada satu pola penataan yang cocok untuk semua rumah, karena kebiasaan tiap keluarga berbeda.

"Enggak ada ruangan yang sempurna untuk semua orang," ujarnya.

Meluangkan ruang juga bisa dilakukan lewat kebiasaan sederhana, seperti mengevaluasi fungsi ruangan, memanfaatkan sudut kosong atau area bawah tangga, dan menyimpan barang sesuai frekuensi penggunaan.

Memilah barang secara berkala juga penting agar barang lama tidak menumpuk. "Sebaiknya ketika ada barang masuk, ada barang yang keluar. Memang kadang ada nilai sentimental yang membuat kita sulit melepaskan barang, tetapi itu menjadi komitmen yang perlu dibangun bersama," jelas Alfinda.

| Baca Juga: Bersinar Sejak Kecil, Sherina Munaf Sebut Tidak Pernah Dipaksa Orangtuanya

Furnitur dengan fungsi fleksibel dan ruang kosong yang tidak dipaksakan untuk terisi juga membantu membuat rumah terasa lebih lega.

Pengalaman ini dirasakan Rudy Ferdianrus, art director dan videografer yang kini menjadi ayah dua anak. Alih-alih merenovasi besar, ia menyesuaikan fungsi ruang yang sudah ada.

"Setelah punya anak, kami tidak merasa harus mengubah semuanya dari awal. Yang kami lakukan justru terus menyesuaikan rumah mengikuti kebutuhan keluarga," ungkapnya.

Ruang di lantai satu rumahnya kini berubah fungsi sepanjang hari, dari tempat sarapan, ruang kerja, hingga area bermain dan belajar anak. "Rumah memang bukan sesuatu yang selesai sekali jadi, tetapi terus berkembang mengikuti kehidupan keluarga kami," katanya.

1 2 3

Tags: