Kesulitan dalam Adegan Sedih dan Kemarahan

Rispo mengakui bahwa adegan emosional seperti marah dan sedih adalah bagian tersulit dari proses syuting ini. Ia sering kali harus mengulang adegan saat beradu peran dengan Dodit dan Tarra Budiman karena suasana yang menurutnya terlalu akrab dan lucu.

"Saya paling susah itu adegan sama Dodit dan Tarra. Karena itu kita berantem segala macam, tapi mereka kan komedi ya, saya tahu mereka seperti apa, jadi saya harus marah tapi saya ingin ketawa. Itu lumayan banyak diulang-ulang," kenang Rispo.

Selain kemarahan, adegan kesedihan juga menjadi ujian berat. Rispo memilih untuk tidak sekadar berakting secara teknis, melainkan berusaha merasakan emosi tersebut secara nyata.

| Baca Juga: Jadi Eksekutif Produser di Sekuel Film Kuasa Gelap, Jerome Kurnia Tetap Utamakan Akting

"Lebih ke sedih sih yang lumayan susah buat saya. Mungkin.di dalam karena saya baca skrip sudah ngerasa sedih, cuma untuk ekspresinya gitu kadang jadi 'salah nggak ya, apa bener nggak ya'," kata Rispo.

"Tapi saya di sini juga emang nggak mencoba berakting banget, saya cuma ngerasain saja apa yang harus saya alami pada saat scene itu," sambungnya.

Tantangan Adegan Romantis Bersama Ersya Aurelia

Salah satu kejutan lain dalam film ini adalah adanya elemen romansa yang serius antara karakter Ben dan karakter yang dimainkan oleh Ersya Aurelia.

Kakak komika Fico Fachriza ini mengaku sempat ragu dan bingung bagaimana membangun chemistry romantis tanpa terlihat aneh di mata penonton, mengingat citra dirinya sebagai pelawak.

Ananta Rispo dan Ersya Aurelia
Ananta Rispo dan Ersya Aurelia. Foto: Agnes

"Itu juga lumayan bingung saya harus seperti apa, karena saya takutnya ini miss gitu antara romance atau nafsu gitu, jadi beda. Karena kan sebelumnya saya image-nya sudah kayak begitu," ungkap Rispo.

Namun, kendala tersebut berhasil diatasi berkat keterbukaan lawan mainnya. Ersya Aurelia yang sudah berpengalaman di genre drama banyak membantunya di lokasi.

1 2 3

Tags: