Ia juga menegaskan tidak ada batas usia minimal untuk mulai mengenalkan seni kepada anak, meski jenis pembelajarannya perlu disesuaikan. Teknik realisme yang ia ajarkan, misalnya, baru dibuka untuk usia minimal 16 tahun karena dianggap "kurang fun" dan terlalu analitis bagi anak kecil.

Dalam ajang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 yang mengusung tema "Strength & Resilience", Hartanto menjadi salah satu juri bersama Mitha Budhyarto, Abigail Hakim, dan Edwin Cheah. Tema tersebut ditentukan dalam penjurian regional di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 dan dipakai bersama oleh Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

| Baca Juga: Ternyata Bukan Lagi Diskon! Ini yang Kini Diburu Konsumen Saat Belanja

"Sebenarnya kami tidak menyadari bahwa itu akan tambah terasa saat ini. Jadi saya pikir sebuah kebetulan yang bagus juga, ternyata tema Strength and Resilience kayaknya lebih relevan dengan hidup kita sehari hari," katanya.

Hartanto menyebut penjurian tidak hanya menilai aspek visual, melainkan juga konsep dan riset artistik di balik karya.

"Kalau kita sih bukan hanya dari visual saja. Karena ini kan contemporary art competition. Jadi pemilihan media yang digunakan, kemudian juga konsep di balik karya tersebut apa. Bukan hanya cantiknya saja," ungkapnya.

Salah satu karya yang paling berkesan baginya adalah karya pemenang kategori pelajar berjudul "Yang Tersisa Setelah Sepulang Kerja", yang terinspirasi dari kehidupan pekerja pabrik semen dan memanfaatkan debu semen dari pakaian kerja sebagai medium karya.

| Baca Juga: Kini Lebih Bugar, Indra Bekti Berhasil Turunkan Berat Badan Hingga 10 Kg

"Tersentuh banget. Setiap hari dia harus bangun pagi, kerja, pergi pulang, yang tersisa hanya debu debu itu yang menempel di badannya," kata Hartanto. Ia menilai karya tersebut sederhana namun kuat karena langsung menyentuh inti persoalan.

Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, menambahkan bahwa antusiasme peserta menjadi bukti semangat berkarya masyarakat Indonesia yang terus tumbuh dari kota besar hingga daerah dengan akses platform seni yang belum merata.

Bagi Hartanto, mengenalkan seni kepada generasi muda bukan soal seberapa cepat anak mampu menggambar dengan benar, melainkan memberi ruang agar rasa ingin tahu mereka tumbuh, hingga ketertarikan itu berkembang dari kesenangan menjadi ketekunan, dan dari ketekunan menjadi keterampilan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: