Erick Estrada Ungkap Masa Sulit Meniti Karier, Kehabisan Uang Hingga Alami Pelecehan Seksual
VIVIA MEDIA — Sebelum dikenal luas sebagai aktor, Erick Estrada mengawali kariernya dari bawah. Pria 39 tahun ini menceritakan masa sulitnya sebelum dikenal publik. Sebagai pendatang baru, Eric pernah dipandang sebelah mata oleh para kru film.
"Saya merasakan di mana seorang aktor yang dulu bukan siapa-siapa, dipandang sebelah mata oleh kru film. Kru film itu bukannya jahat, tapi di situ saya tidak mempunyai porsi," ungkap Erick saat ditemui di Epicentrum, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Karena posisinya saat itu, maka ia tidak mendapat fasilitas yang layak di lokasi syuting. Jika pemain lain mendapat kamar di penginapan, tidak demikian dengan dirinya.
“Saya pernah tidur di masjid karena tidak dapat kamar hotel," kenang pemilik nama asli Erick Estrada Gagah Prakarsa di masa masa sulitnya.
| Baca Juga: Kenalan Lewat DM Medsos, Fatieh Aton Ungkap Awal Kedekatannya dengan Bedu
Dalam kondisi sulit itu, Erick menyebut sutradara Yogi S. Calam sebagai sosok yang sangat berjasa dalam hidupnya. Saat itu, Yogi yang masih menjabat sebagai asisten sutradara (astrada) membantunya dengan menawarkan tempat tidur di kamarnya.
"Dia bangunin saya dan ajak saya tidur di kamarnya. Di situ awal mulanya saya kenal dan mulai dekat. Makanya saya bangga banget Yogi sekarang bisa punya film sendiri. Luar biasa," kata Erick melanjutkan kisahnya.
Tak hanya itu, bahkan saat uang yang dimilikinya menipis, ia terpaksa menjual kalung istrinya untuk bertahan hidup beberapa hari saat syuting di Jogja.
"Saya bahkan harus menjual kalung istri saya untuk bertahan hidup beberapa hari saat syuting di Jogja,” imbuhnya.
| Baca Juga: Kenapa Netizen Korea Marah kepada Ha Young? Ini Kontroversi Silsilah Keluarganya
Skandal Pelecehan Seksual di Awal Karier
Selain kesulitan finansial, Erick juga mengungkap sisi gelap industri perfilman yang pernah ia alami langsung, yakni pelecehan seksual. Pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini, mengaku pernah mendapatkan tawaran yang tidak senonoh hanya untuk mendapatkan kesempatan audisi (casting).
“Dunia film itu kejam. Saya pernah ditawari (hal negatif) secara seksual untuk casting saja. Dengan film yang bergenre waktu itu, ya begitulah. Saat itu saya tanya ke Yogi, gimana ini dunia film kok kejam ya, ada pelecehan seksual,” ungkap Erick.
Menghadapi situasi tersebut, Erick mendapat penguatan dari sahabatnya.
"Yogi bilang, kalau kamu orang Jawa, apalagi orang Solo, kamu tidak kuat. Kamu akan balik lagi ke daerah dan tidak menjadi apa-apa. Di situ saya buktikan, kita orang daerah bisa menaklukkan Jakarta dengan karya,” tegasnya.
| Baca Juga: Aldi Taher Jelaskan Alasan Peluk Vokalis JET Nic Cester di Atas Panggung
Pernah Jadi Asisten Luna Maya
Sebelum sukses sebagai aktor, Erick diketahui pernah bekerja sebagai asisten aktris Luna Maya pada tahun 2013 hingga 2014. Bintang film Ambyar Mak Byar ini menggambarkan Luna Maya sebagai sosok yang sangat dermawan dan perhatian.
“Apapun berita miring di luar tentang Luna Maya, saya berani jamin 100 persen dia bukan orang seperti itu. Dia orang yang sangat hangat dan peduli sama orang sekitar," puji Erick.
Bahkan hingga kini, Erick tak pernah lupa atas hadiah pertama dari Luna Maya yang tetap disimpannya sampai sekarang. Selain kulkas, Eric juga menyebut pernah diberikan AC portable oleh Luna Maya.
"Terima kasih buat kulkas pertamanya yang sekarang masih jadi lemari baju saya. Saya tidak akan menghilangkan itu,” kenang Eric.
| Baca Juga: Bisikan Desa Gringsing, Film Horor Indonesia Pertama dengan Teknologi Virtual Production
Harapan Menjadi Sutradara yang Berdampak
Erick yang kini telah membintangi lebih dari 30 judul film ini menyatakan harapannya untuk masa depan kariernya di dunia perfilman Indonesia. Ia tidak lagi hanya mengejar popularitas, melainkan ingin menciptakan karya yang memiliki nilai sosial.
“Saya ingin menjadi seorang sutradara yang film-film saya harus berdampak dan bermanfaat buat banyak orang,” ujarnya.
Meskipun dikenal sebagai komedian, Erick mengaku sempat ingin menghindari peran komedi demi mengubah citra (image) di mata publik.
"Saya memang ingin merubah image dari komedi ke arah menjadi seorang sutradara magang," ujarnya.
| Baca Juga: Gempa Kolombia: Seorang Perempuan Diselamatkan Setelah 30 Jam Tertimbun Reruntuhan
Erick kini tengah fokus mendalami peran di balik layar sebagai sutradara. Ia telah menyelesaikan film pendek pertamanya berjudul 'NAPI: Pesan dari dalam'. Film ini mengangkat kehidupan warga binaan dan harapan untuk mendapat kesempatan kedua. Menariknya, semua pemainnya adalah napi (narapidana).
"Film itu dibuat tanpa skrip, tanpa naskah. Saya memulai debut belajar sutradara dari tiga guru, Yogi S. Calam, Hanung Bramantyo, dan Fajar Nugros," ujarnya.
Film tersebut berhasil mendapatkan perhatian di kancah internasional melalui festival film di Toronto. Keberhasilan ini juga mengantarkan Erick pada kontrak selama lima tahun dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS).
"Saya ingin mengangkat bahwa ekonomi kreatif bisa kita buktikan ada di dalam penjara. Jadi goals seorang aktor itu beda-beda. Saya lebih suka dan ingin menjadi seorang director," tutup Erick. (*)







