Main Game Bareng Bisa Jadi Jalan Mendekatkan Keluarga
Permainan seperti itu cocok bagi mereka yang belum pernah bermain game sama sekali. Ia menekankan pengalaman bermain bersama tidak harus dimulai dari yang sudah mahir. Justru dari kesalahan-kesalahan kecil, muncul tawa dan percakapan.
Meski begitu, kebersamaan lewat game tetap membutuhkan batasan. Anak tetap butuh waktu tidur, belajar, bergerak, dan berinteraksi tanpa layar.
| Baca Juga: Greg Nwokolo Tak Paksakan Anak Jadi Pemain Sepak Bola
Takeuchi mengakui ada sistem pemantauan orang tua dalam game. Tapi, ia menegaskan teknologi tidak bisa menggantikan komunikasi langsung dan kesepakatan waktu bermain bersama anak.
Selain lewat Nintendo Switch, jembatan antargenerasi dalam dunia game juga terlihat lewat kehadiran Pokémon. Susumu Fukunaga, Corporate Officer The Pokémon Company, menyoroti kedekatan masyarakat Indonesia dengan Pokémon.
Permainan itu memiliki ragam mulai dari permainan kartu, kegiatan komunitas, Pikachu's Indonesia Journey, hingga kolaborasi dengan Garuda Indonesia dan motif batik pada Pikachu.
“Saya merasa sangat senang dan bahagia bahwa masyarakat Indonesia bisa menikmati konsep Pokémon melalui video game,” ujarnya.
| Baca Juga: Raditya Dika Cerita Alasan Betah Main Trading Card Game
Bagi anak, karakter ini mungkin sekadar lucu dan menyenangkan. Namun, bagi orang tua, ia membawa kenangan masa kecil.
Di titik inilah, ketika orang tua bersedia masuk ke dunia game anak, posisi bisa terbalik: anak menjelaskan, orang tua pun belajar.
Momen ini membuat anak merasa dihargai, sekaligus memberi orang tua cara baru mengenal anak. Seperti bagaimana mereka mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan bekerja sama.
Takeuchi maupun Fukunaga sama-sama menunjukkan bahwa nilai sebuah game tidak terletak pada perangkat atau judulnya, melainkan pada interaksi yang tercipta di dalamnya.







