VIVIA MEDIA — Perkembangan kecerdasan artifisial mengubah cara kreator bekerja, mulai dari membuat desain, mengembangkan ide, hingga menyiapkan video. Karya yang dibuat kini dapat dikembangkan menjadi produk digital atau ditawarkan kepada audiens yang lebih luas.

Namun, semakin mudah orang membuat karya, semakin banyak pula karya yang beredar, sehingga kemampuan menggunakan kecerdasan buatan (AI) saja tidak cukup untuk membuat kreativitas benar-benar menghasilkan.

Cara pertama adalah tetap menempatkan ide sebagai titik awal, bukan teknologi. AI sebaiknya digunakan untuk membantu proses kreatif, seperti mencari alternatif konsep atau mempercepat pekerjaan teknis, sehingga kreator bisa lebih fokus memikirkan cerita dan kualitas karya.

Satu gagasan pun bisa dikembangkan menjadi tulisan, gambar, atau materi media sosial.

| Baca Juga: Main Game Bareng Bisa Jadi Jalan Mendekatkan Keluarga

Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, mengatakan kreator membutuhkan akses teknologi sekaligus kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan.

"Para kreator membutuhkan akses terhadap teknologi, kesempatan untuk belajar, komunitas untuk berkolaborasi, dan kesempatan untuk menjadikan kreativitas mereka sebagai sumber penghidupan dan karier," ujar Irene Umar saat kegiatan After Hours: Creator Economy di Museum Nasional, Jakarta pada Sabtu (15/8).

Selanjutnya, cara kedua: satu karya tidak harus hanya menghasilkan satu kali. Sebuah desain atau foto bisa dikembangkan menjadi template atau aset visual yang dapat digunakan orang lain.

Contoh model ini terlihat pada program Create and Earn dari Adobe, di mana kreator membuat template di Adobe Express dan memperoleh imbalan dari karya serta traffic yang dihasilkan.

| Baca Juga: Ini Tips Belanja Cerdas agar Pengeluaran Lebih Efisien

Cara ketiga adalah membuat karya yang menjawab kebutuhan audiens, bukan sekadar menarik secara visual. AI dapat membantu mengolah ide dan membaca pola masukan audiens, meski pemahaman langsung tetap harus dilakukan kreator sendiri.

Cara keempat adalah ciri khas yang tetap menjadi pembeda utama. Ketika semua orang memiliki akses ke teknologi yang sama, yang membedakan bukan lagi alat yang dipakai, melainkan cara seseorang menggunakannya. Baik itu lewat gaya visual, cara bercerita, maupun sudut pandang tertentu.

"Misi Adobe adalah memberdayakan setiap orang untuk berkreasi," kata Kate Aher, Director of Product Marketing Adobe. Pesan ini menunjukkan bahwa teknologi seharusnya memperluas ruang kreativitas, bukan membuat semua karya menjadi seragam.

| Baca Juga: Menemukan Bakat Anak, Orang Tua Bisa Lakukan 4 Langkah Sederhana Ini

Cara kelima, kreator sebaiknya tidak membatasi diri pada pasar lokal. Internet memungkinkan karya ditemukan oleh audiens dari negara lain, dan AI dapat membantu menyesuaikan konten dengan bahasa serta kebutuhan audiens yang berbeda.

Data Kementerian Ekonomi Kreatif/BPS mencatat ekonomi kreatif menyumbang Rp1.757,87 triliun terhadap PDB nasional pada 2025 dan menyerap 27,4 juta tenaga kerja, sementara creator economy Indonesia diperkirakan mencakup hampir 12 juta content creators.

Reski Damayanti, Direktur and Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan teknologi dapat menjadi penghubung antara kreativitas dan kesempatan ekonomi.

"Teknologi tidak hanya menghubungkan masyarakat, tetapi juga mengubah kreativitas menjadi peluang ekonomi," kata Reski Damayanti.

| Baca Juga: Tren Baru Gen-Z: Detoks Media Sosial Demi Mental yang Lebih Sehat

Cara keenam, kreator perlu terus belajar karena AI berkembang sangat cepat, termasuk cara membangun audiens, memasarkan karya, mengelola bisnis, dan memahami hak cipta agar karyanya bisa menjadi sumber penghasilan berkelanjutan.

Kreator tidak perlu berusaha menguasai semua teknologi sekaligus. Yang lebih penting adalah memahami teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Cara terakhir adalah kreativitas tetap sebagai modal utama. AI hanyalah alat. Teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi tidak otomatis membuat sebuah karya memiliki nilai.

Nilai sebuah karya tetap berasal dari ide, cerita, pengalaman, dan kemampuan kreator melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Teknologi hanya mempercepat langkah, sementara kreativitas tetap menentukan ke mana langkah itu diarahkan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: