"Kita menjadikan heritage kita ini menjadi living heritage, jadi bukan sekadar dead monument," katanya.

Pengalaman penonton di Borobudur tidak berhenti pada musik. Di sekitar lokasi pertunjukan akan hadir cultural village yang dikembangkan bersama Kementerian Kebudayaan dan Plainsong, tim di balik Joyland Festival, menampilkan seni tradisional, kuliner, dan kriya khas Magelang serta Jawa Tengah.

| Baca Juga: 9 Hari Berlalu, Dokumentasi Meet and Greet BLACKPINK Baru Diunggah, BLINK Kecewa?

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya melihat konser ini sebagai kesempatan bagi talenta lokal untuk belajar langsung dari ekosistem produksi dunia, mulai dari orkestra hingga stage management, tata suara, dan pencahayaan.

"Transfer knowledge seperti inilah yang akan memperkuat kualitas talenta dan daya saing industri musik Indonesia ke depan," ujar Riefky.

Prajna menggambarkan dampak konser sebagai sebuah flywheel: artis besar mendatangkan penonton, penonton menggerakkan hotel, restoran, transportasi, dan usaha lokal, sementara produksi internasional membuka ruang transfer keterampilan dan eksposur global.

"Pemerintah membuka jalan, industri menjalankan, dan ekonomi daerah menerima manfaatnya," ujarnya.

| Baca Juga: Dari Momen di Tengah Konser menjadi Nada: Begini Cara Sal Priadi Menangkap Inspirasi Lagu

Rangkaian konser di Candi Borobudur dan Jakarta memperlihatkan dua sisi Indonesia dalam satu perjalanan, dari lanskap bersejarah hingga denyut kota metropolitan. Bagi Fadli Zon, momentum ini menegaskan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

"Budaya ini menjadi binding power," tandasnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: