Cara Maxime Bouttier Tampil Lebih 'Brondong' di Series 'Tante Sonya'
VIVIA MEDIA — Aktor Maxime Bouttier kembali menunjukkan eksistensinya di dunia seni peran melalui serial terbaru produksi Rapi Films berjudul WeTV Original 'Tante Sonya'.
Dalam serial ini, Maxime didapuk memerankan karakter Ben, seorang pria muda dari generasi Z yang terlibat romansa dengan atasannya sendiri, Sonya, yang diperankan oleh Raihaanun.
Salah satu daya tarik utama serial ini adalah perbedaan usia yang cukup signifikan di antara kedua karakter utama, yakni terpaut hingga 14 tahun.
Menghadapi tuntutan peran sebagai pria di awal usia 20-an, suami dari Luna Maya ini mengungkapkan bahwa penampilan fisik sangat dipengaruhi oleh detail kecil, terutama gaya rambut.
| Baca Juga: Series 'Tante Sonya': Raihaanun Hadirkan Romansa Beda Usia dan Sosok Independent Woman
Maxime menjelaskan bagaimana ia memanipulasi penampilannya agar terlihat lebih muda sekaligus tetap memiliki sisi dewasa yang proporsional.
"Sebenarnya penampilan itu selalu tergantung pada rambut. Kalau rambut bagian depan diturunkan, terlihat lebih muda. Kalau dinaikkan, terlihat lebih dewasa," jelas Maxime Bouttier saat ditemui di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
"Di serial ini, gaya rambut saya berada di tengah-tengah, mau terlihat muda tapi ada sisi dewasanya juga," sambung Maxime.
Selain persoalan fisik, aktor 33 tahun ini menekankan bahwa kekuatan naskah menjadi pedoman utamanya dalam berakting.
| Baca Juga: Adu Silat Iko Uwais vs Kungfu Ashton Chen di ‘Wings of Dread’ akan Tayang di Bioskop
"Kalau soal referensi karakter, menurut saya naskahnya sudah sangat kuat. Saya tinggal mengikuti apa yang tertulis di skrip untuk menghidupkan karakter tersebut. Referensi dari skrip saja sudah cukup bagi saya," tambahnya.
Antara Sifat Manja dan Jiwa Petualang
Di serial ini, karakter Ben dinilai memiliki sisi manja khas anak muda. Menanggapi hal tersebut, Maxime justru berkelakar bahwa sifat tersebut tidak jauh berbeda dengan kepribadian aslinya di dunia nyata, sehingga ia tidak kesulitan dalam mengeksekusi adegan.
"Aslinya saya memang kayak gitu, jadi gampang. Referensinya ya diri saya sendiri dua tahun yang lalu. Tapi sebenarnya saya tetap mengikuti arahan skrip. Kami banyak diskusi tentang bagaimana adegan 'manja' itu ditampilkan," ungkapnya.
Namun, Maxime memberikan catatan bahwa Ben adalah karakter yang multidimensi. Menurutnya, Ben bukan sekadar pria manja, melainkan sosok yang easy-going dan berani mencoba hal baru.
| Baca Juga: Wulan Guritno Sabet Penghargaan Aktris Terbaik, Isyaratkan 'Mama Mama Pengejar Cinta 2'
"Tapi kalau menurut saya, karakter Ben ini tidak terlalu manja, dia justru cukup dewasa tapi easy-going dalam menjalani hidup. Dia sangat terbuka dan adventurous, meskipun di episode satu terlihat sangat terpuruk. Malah menurut saya, karakternya Hamish yang lebih manja di sini!" kelakarnya membandingkan dengan karakter lain.
Bantah Label 'Perfect Green Flag'
Meski karakter Ben mulai mendapatkan label sebagai pria idaman atau green flag dari para penggemar, Maxime mengingatkan bahwa Ben tetaplah manusia biasa yang memiliki cacat dan penyesalan masa lalu. Serial ini disebutnya akan menampilkan transformasi karakter secara bertahap.
"Sebenarnya Ben juga bukan perfect green flag. Karakter saya di sini memiliki banyak penyesalan dan hal-hal yang harus dia nilai kembali dalam hidupnya. Setiap episode akan memperlihatkan proses itu," jelas Maxime.
Chemistry Natural Tanpa Rasa Sungkan
Keberhasilan drama romantis sangat bergantung pada keterikatan emosional antar pemainnya. Bagi Maxime, membangun chemistry dengan Raihaanun bukan perkara sulit karena keduanya sudah memiliki jalinan pertemanan di luar lokasi syuting. Hal ini membuat adegan-adegan intens dapat dilakukan secara profesional dan mengalir.
| Baca Juga: Terlibat di Film Adaptasi Negeri Dongeng, Tissa Biani Sempat Ragu Jadi Nirmala
"Membangun chemistry dengan Hanun (Raihaanun) sebenarnya terasa sangat natural. We’re friends di luar proyek ini, jadi prosesnya seru banget. Nggak ada rasa sungkan atau canggung, bahkan saat kami harus melakukan adegan-adegan yang cukup emosional atau intens," tuturnya.
Lebih lanjut, Maxime menjelaskan bahwa komunikasi aktif menjadi kunci utama mereka di lapangan.
"Diskusi kami sangat mengalir. Kami benar-benar bekerja keras untuk memastikan dinamika hubungan Ben dan Sonya ini terasa nyata dari episode pertama sampai terakhir. Kami ingin penonton bisa merasakan betapa kuatnya tarikan emosi di antara mereka berdua, meskipun ada banyak hambatan," jelasnya.
Serial Tante Sonya sendiri merupakan sebuah reboot dari film drama legendaris tahun 1994, Catatan Harian Tante Sonya, yang dahulu dibintangi oleh Ayu Azhari.
Meski berangkat dari materi lama, sutradara Surya Ardy membawa perspektif baru yang lebih relevan dengan isu sosial masa kini. (*))






