VIVIA MEDIA — Ukuran rumah kecil atau yang terbatas sering membuat penghuni merasa harus memilih antara ruang untuk bekerja, beristirahat, makan, atau bersantai. Padahal, satu ruangan bisa menjalankan beberapa fungsi sekaligus selama penataannya disesuaikan dengan aktivitas penghuninya.

Kuncinya bukan menambah luas ruangan, melainkan melihat kembali bagaimana ruang tersebut digunakan sehari-hari. Meja makan, misalnya, tidak harus berhenti pada fungsi makan saja, tapi bisa menjadi tempat bekerja atau menyusun rencana.

Alfinda Krista Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia, mengatakan kebutuhan ruang sebaiknya tidak diterjemahkan secara kaku berdasarkan nama ruang. Sebuah kamar tidak harus hanya untuk tidur, sementara bekerja harus selalu dilakukan di ruang kerja.

"Kita tidak selalu membutuhkan ruang yang lebih besar atau rumah yang lebih besar untuk aktivitas-aktivitas kita," katanya saat bincang-bincang bertajuk Luangkan Ruang, Agar Inspirasi Punya Tempat Singgah di IKEA Alam Sutra, Tangerang, baru-baru ini.

| Baca Juga: Ini 7 Cara Kreator Mengubah Kreativitas Menjadi Penghasilan dengan Bantuan AI

Kesalahan yang kerap terjadi saat menata ruangan kecil adalah memilih furnitur terlebih dahulu, baru kemudian menyesuaikan aktivitas dengan benda yang sudah dibeli.

Proses yang lebih efektif justru dimulai dari pertanyaan sederhana. Apa saja yang dilakukan di ruangan tersebut?

Jika sebuah ruangan digunakan untuk bekerja sekaligus bersantai, tidak berarti harus ada dua set furnitur berbeda, cukup tentukan area mana yang bisa menjalankan fungsi tersebut secara bergantian.

Setelah mengetahui aktivitas yang berlangsung, langkah berikutnya adalah mencari kemungkinan fungsi ganda dari setiap area, prinsip yang sangat membantu terutama pada rumah atau apartemen dengan luas terbatas.

| Baca Juga: Yakin Pilihanmu Tepat? Ini 5 Tips Memilih Kasur yang Bikin Tidur Lebih Nyenyak

Meja makan dapat berfungsi sebagai meja kerja, sudut ruang keluarga bisa menjadi tempat membaca sekaligus bersantai, dan bagian tertentu kamar dapat digunakan untuk bekerja tanpa sekat permanen.

Yang penting, barang-barang untuk bekerja sebaiknya mudah dipindahkan atau dirapikan agar perubahan fungsi berjalan lancar.

Pada ruangan kecil, jumlah barang sangat memengaruhi kenyamanan. Semakin banyak benda memenuhi lantai dan permukaan furnitur, semakin sulit ruang tersebut digunakan untuk aktivitas berbeda.

Karena itu, pilih benda berdasarkan seberapa sering dan penting benda tersebut digunakan, sementara barang yang jarang dipakai bisa disimpan di tempat lain. Ruang kosong pun sebaiknya tidak dianggap sia-sia, karena area ini memberi keleluasaan untuk berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

| Baca Juga: Ini Tips Belanja Cerdas agar Pengeluaran Lebih Efisien

Cara meletakkan furnitur juga menentukan apakah sebuah ruang terasa sempit atau leluasa. Furnitur tidak harus selalu ditempatkan untuk menciptakan pembagian fungsi yang permanen.

Layout yang lebih terbuka membantu beberapa aktivitas berlangsung dalam satu ruang tanpa membuatnya terasa terkotak-kotak, sehingga satu ruang bisa digunakan oleh beberapa orang dengan aktivitas berbeda secara bersamaan.

Tidak semua aktivitas membutuhkan ruang besar. Untuk membaca, menulis, atau sekadar menikmati minuman, sebuah sudut kecil dengan kursi nyaman, meja kecil, dan pencahayaan yang sesuai sudah cukup membentuk suasana berbeda tanpa sekat permanen.

Kehadiran sudut semacam ini penting karena rumah bukan hanya tempat menyelesaikan pekerjaan, tapi juga tempat berhenti sejenak dari rutinitas.

| Baca Juga: Barista Kini Tak Hanya Jago Meracik, Kemampuan Bercerita Soal Kopi Juga Penting

Kebutuhan manusia juga tidak selalu sama setiap hari, pagi untuk bekerja, sore untuk berkumpul, malam untuk beristirahat. Karena itu, ruang sebaiknya tidak ditata terlalu kaku.

"Jangan sampai ruang itu yang mendikte kita harus ngapain di situ, tapi bagaimana dia bisa men-support kita," tegas Alfinda.

Prinsip ini bisa diterapkan dengan memilih furnitur yang mudah digeser, penyimpanan praktis, serta menghindari terlalu banyak pembatas permanen.

Pengalaman menggunakan ruang yang sangat terbatas menunjukkan bahwa ukuran fisik bukan satu-satunya faktor penentu sempit atau luasnya sebuah ruang. Kenyamanan tidak selalu lahir dari banyaknya ruang kosong, melainkan dari kemampuan ruang mengakomodasi kebutuhan penggunanya.

Karena itu, sebelum mencari rumah yang lebih besar, ada baiknya melihat kembali ruang yang sudah dimiliki, sebab rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu mengikuti ritme penghuninya, tempat bekerja ketika harus bekerja dan beristirahat ketika perlu beristirahat. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: