Pencarian gabungan yang melibatkan lebih dari 400 personel digelar untuk mencari Jang pada 20 Agustus. Operasi itu melibatkan aparat polisi, penjaga pantai, tentara, pejabat pemerintah, dan warga sipil di Jeju.

Pada 22 Agustus, jasad seorang pria berusia 60-an ditemukan di hutan Gujwa, Jeju. Pria itu ternyata pernah dilaporkan hilang 51 hari sebelumnya, dan kasusnya juga ditutup sepihak oleh Bu dengan modus serupa.

Pada 23 Agustus, seorang nelayan menemukan jasad seorang pria lansia di sekitar perairan Sinheung-ri, Jocheon, Jeju. Korban sempat dilaporkan hilang sehari sebelumnya.

Terungkapnya pola berulang ini membuat Bu ditahan segera tanpa surat perintah pada Sabtu, 22 Agustus. Dia didakwa atas dugaan pengabaian tugas, pemalsuan dokumen elektronik resmi, dan menghalangi tugas resmi.

| Baca Juga: Gagal 4 Kali, Bartlomiej Kubkowski Akhirnya Taklukkan Laut Baltik dalam 55 Jam

Keesokan harinya, Hong Seok-ki, kepala Kantor Investigasi Nasional di bawah Badan Kepolisian Nasional Korea (KNPA), mendatangi Kepolisian Provinsi Jeju untuk menerima laporan langsung.

Hong pun menyampaikan permintaan maaf atas kinerja aparat.

“Saya tentu meminta maaf kepada masyarakat dan akan membuat perbaikan institusional agar kasus seperti ini tidak terulang,” katanya kepada wartawan.

Perdana Menteri Korea, Han Seong-sook, memerintahkan KNPA untuk menyelidiki tuntas apakah ada prosedur dilanggar dalam penanganan kasus tersebut.

Puncaknya terjadi Senin, 24 Agustus. Pada pagi hari, ditemukan satu jenazah ditemukan di dekat sebuah lembah di kawasan Aewol-eup, Kota Jeju.

Belum cukup di situ, beberapa jam kemudian, satu jasad yang diduga Jang Mi-ran ditemukan sekitar pukul 10.46 waktu setempat di sebuah kebun pohon sagu di Hallim-eup.

| Baca Juga: Yoko Morishita, Ballerina Tertua di Dunia Masih Aktif Manggung di Usia 77 Tahun

1 2 3

Tags: