Dari Kehilangan Kerja Jadi Konten: Kisah Keluarga SaDhis Membangun Keseimbangan
VIVIA MEDIA — Sasha Pangerang dan Adhiramsyah, yang akrab disapa Adi, bukan pasangan yang tiba-tiba dikenal lewat media sosial. Sebelum kehidupan rumah tangga mereka menjadi konten, keduanya sudah lama berkecimpung di dunia media.
Adi pernah menjadi penyiar radio dan kini masih aktif sebagai MC serta pekerja kreatif lepas, sementara Sasha berpengalaman di dunia radio, produksi, dan pekerjaan kreatif di balik layar. Dari lingkungan itulah mereka bertemu.
Keduanya menikah pada 2021 dan kini memiliki seorang putra, Bas Karam, yang berusia tiga tahun. Namun, perjalanan mereka membuat konten bersama sebenarnya sudah dimulai sejak 2020, sebelum pernikahan.
Pandemi menjadi titik balik ketika keduanya mengalami kehilangan pekerjaan, dan aktivitas berbagi kehidupan di media sosial perlahan berubah menjadi profesi. Kini, lewat akun @keluargasadhis, mereka membagikan keseharian, perjalanan, hingga momen sederhana bersama anak.
| Baca Juga: Jangan Tambah Ruang, Ubah Cara Menatanya: Cara Membuat Rumah Kecil Lebih Fungsional
Di luar pekerjaan, Sasha menyukai olahraga lari dan mulai mencoba yoga, sementara Adi menekuni tenis. Bagi mereka, keharmonisan rumah tangga tidak berarti harus selalu melakukan segala sesuatu bersama.
"Gak usah selalu sama-sama. Tapi once we got home, kita hadir, kita sama-sama ada," ujar Sasha di sela kegiatan Sunset Yoga With IM3 Platinum di Jakarta Mori Tower, Sudirman, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Prinsip itu juga mereka bawa dalam mengasuh Bas Karam. Tanpa bantuan nanny maupun orang tua, keduanya menjalani peran sebagai full time parents dengan pembagian yang tidak dihitung 50 banding 50.
"Anak ayah, anak ibu itu bukannya 50-50, tapi memang 100 persen. Pas dia lagi sama gue 100 persen, pas lagi sama Sasha 100 persen," ujar Adi.
| Baca Juga: Masuk Masa Menopause, Maia Estianty Curhat Alami Pengapuran Tulang
Pekerjaan rumah pun dijalani dengan cara serupa, tanpa membebankan urusan domestik hanya kepada istri. Fondasi yang membuat semua itu berjalan, menurut mereka, adalah komunikasi yang terus dijaga, bukan sekadar alat menyelesaikan konflik.
Keduanya juga meyakini bahwa perjalanan rumah tangga mereka tidak hanya soal hubungan antara dua manusia, tetapi juga perjalanan yang dijalani bersama keyakinan spiritual.
1 2







