Menurut Takumi, penghitungan carbon footprint pada produk mereka menunjukkan adanya pengurangan emisi sejak tahap pengadaan bahan baku hingga produk digunakan konsumen.

Kesadaran lingkungan juga merambah ke kemasan. Kardus produk memanfaatkan bahan daur ulang dan biomass, termasuk tandan buah kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB) hasil limbah produksi minyak sawit, yang dikembangkan bersama PT Oji Sinarmas Packaging.

| Baca Juga: Kantongi Sertifikat dari AS, Marshanda Rutin Jalani Terapi Suara Sendiri di Rumah

Selotip kemasan pun menggunakan material yang dapat didaur ulang, sehingga perhatian terhadap lingkungan tidak berhenti pada isi produk saja.

Influencer sekaligus penggiat lingkungan Veronika Krasnasari menilai pilihan terhadap produk ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan.

"Penggunaan produk ramah lingkungan sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan karena membantu mengurangi dampak negatif pada alam," katanya, seraya menekankan bahwa kesadaran ini perlu dibangun bersama karena pilihan konsumen turut menentukan pola konsumsi secara luas.

Pandangan itu sejalan dengan cara Syifa memaknai kebiasaannya sehari-hari. Ia meyakini perubahan besar bagi lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten, seperti membawa tumbler, mengurangi kertas, hingga lebih cermat memilih produk yang digunakan setiap hari.

| Baca Juga: Tak Hanya Religi, Ini Deretan Destinasi Non Religi dan Tips Wisata di Arab Saudi

Karena pembalut merupakan produk yang digunakan secara rutin oleh perempuan, keputusan memilihnya akan terus berulang dan pada akhirnya berkaitan dengan jumlah limbah yang dihasilkan dalam jangka panjang.

Bagi Syifa, menjadi konsumen yang lebih sadar tidak berarti mengubah seluruh kebiasaan sekaligus, melainkan menjalankannya secara bertahap. "Sebagai konsumen, terutama anak muda, kita perlu sadar bahwa setiap pilihan yang kita buat, termasuk dalam berbelanja, punya dampak ke lingkungan," ujarnya.

Di tengah timbulan sampah nasional yang mencapai puluhan juta ton setiap tahun, pilihan-pilihan kecil seperti ini memang tidak langsung menuntaskan persoalan.

Namun, ketika dilakukan konsisten oleh semakin banyak konsumen, kebiasaan memilih dengan lebih sadar dapat menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: