VIVIA MEDIA — Timbunan sampah nasional pada 2025 tercatat lebih dari 31 juta ton, tepatnya 31.238.336,59 ton per tahun berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dari 292 kabupaten/kota.

Dari jumlah tersebut, sampah yang berhasil dikelola baru sekitar 9,93 juta ton per tahun. Kondisi ini membuat upaya mengurangi sampah tidak lagi cukup dilakukan setelah barang menjadi limbah, melainkan harus dimulai sejak tahap memilih produk yang akan digunakan sehari-hari, termasuk produk sesederhana pembalut.

Kesadaran semacam itu tercermin dalam keseharian Syifa Hadju. Ia terbiasa membawa tumbler dan tote bag untuk mengurangi plastik sekali pakai, serta beralih dari skrip cetak ke dokumen digital dalam pekerjaannya.

Kebiasaan itu kemudian meluas ke cara ia memilih kebutuhan pribadi, termasuk pembalut yang ia gunakan.

| Baca Juga: Masuk Masa Menopause, Maia Estianty Curhat Alami Pengapuran Tulang

Bagi Syifa, kenyamanan tetap menjadi syarat utama mengingat aktivitasnya yang padat. Namun, ia kini turut memperhatikan material yang bersentuhan langsung dengan kulit, salah satunya organic cotton yang dikenal lembut dan membantu mencegah bau.

"Itu sebabnya aku merasa nyaman dan tenang menggunakan pembalut berbahan Bio Materials Organic Cotton, karena bukan hanya cegah bau dan lembut di kulit, tetapi juga ramah lingkungan dan aman," ujarnya di Jakarta baru-baru ini.

Perhatian istri El Rumi ini tidak berhenti pada bahan yang menyentuh kulit. Ia turut mempertimbangkan sejauh mana sebuah produk mengurangi ketergantungan pada bahan berbasis minyak bumi.

Sejumlah material alternatif seperti tanaman tebu, batu kapur, botanical oil, dan resin alami mulai digunakan untuk menekan penggunaan plastik murni.

| Baca Juga: Marcell Darwin Tanamkan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini pada Anak Lewat Olahraga

Presiden Direktur Unicharm Indonesia, Takumi Terakawa, menyebut pemanfaatan Bio Material sebagai upaya perusahaan mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi, sekaligus menegaskan bahwa dampak lingkungan sebuah produk perlu dilihat sepanjang siklus hidupnya.

Perhitungan carbon footprint menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Perhitungan ini mencakup emisi gas rumah kaca mulai dari pengadaan bahan baku hingga penggunaan dan pembuangan produk.

Menurut Takumi, penghitungan carbon footprint pada produk mereka menunjukkan adanya pengurangan emisi sejak tahap pengadaan bahan baku hingga produk digunakan konsumen.

Kesadaran lingkungan juga merambah ke kemasan. Kardus produk memanfaatkan bahan daur ulang dan biomass, termasuk tandan buah kosong atau Empty Fruit Bunch (EFB) hasil limbah produksi minyak sawit, yang dikembangkan bersama PT Oji Sinarmas Packaging.

| Baca Juga: Kantongi Sertifikat dari AS, Marshanda Rutin Jalani Terapi Suara Sendiri di Rumah

Selotip kemasan pun menggunakan material yang dapat didaur ulang, sehingga perhatian terhadap lingkungan tidak berhenti pada isi produk saja.

Influencer sekaligus penggiat lingkungan Veronika Krasnasari menilai pilihan terhadap produk ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan.

"Penggunaan produk ramah lingkungan sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan karena membantu mengurangi dampak negatif pada alam," katanya, seraya menekankan bahwa kesadaran ini perlu dibangun bersama karena pilihan konsumen turut menentukan pola konsumsi secara luas.

Pandangan itu sejalan dengan cara Syifa memaknai kebiasaannya sehari-hari. Ia meyakini perubahan besar bagi lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten, seperti membawa tumbler, mengurangi kertas, hingga lebih cermat memilih produk yang digunakan setiap hari.

| Baca Juga: Tak Hanya Religi, Ini Deretan Destinasi Non Religi dan Tips Wisata di Arab Saudi

Karena pembalut merupakan produk yang digunakan secara rutin oleh perempuan, keputusan memilihnya akan terus berulang dan pada akhirnya berkaitan dengan jumlah limbah yang dihasilkan dalam jangka panjang.

Bagi Syifa, menjadi konsumen yang lebih sadar tidak berarti mengubah seluruh kebiasaan sekaligus, melainkan menjalankannya secara bertahap. "Sebagai konsumen, terutama anak muda, kita perlu sadar bahwa setiap pilihan yang kita buat, termasuk dalam berbelanja, punya dampak ke lingkungan," ujarnya.

Di tengah timbulan sampah nasional yang mencapai puluhan juta ton setiap tahun, pilihan-pilihan kecil seperti ini memang tidak langsung menuntaskan persoalan.

Namun, ketika dilakukan konsisten oleh semakin banyak konsumen, kebiasaan memilih dengan lebih sadar dapat menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: