Bukan Remake G30S/PKI, Hanung Bramantyo Tegaskan Film ‘Lobang Buaya’ Murni Horor Fiksi
VIVIA MEDIA — Sutradara Hanung Bramantyo kembali dengan karya terbarunya Lobang Buaya. Film yang mengusung genre drama horor ini mengambil latar waktu krusial dalam sejarah Indonesia, yakni tahun 1964, tepat satu tahun sebelum meletusnya peristiwa besar G30S/PKI.
Hanung Bramantyo menegaskan bahwa film ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan ulang peristiwa 30 September 1965 atau menjadi versi tandingan dari film sejarah yang sudah ada. Ia menyadari sensitivitas isu tersebut di masyarakat saat ini.
"Ini bukan film tentang 30 September atau reverse angle-nya ataupun apa remake-nya G30S/PKI, bukan, bukan itu. Jadi jangan punya terlalu ekspektasi yang tinggi, 'Wah ini nanti seperti ini, wah ini nanti seperti apa filmnya Pak Arifin C. Noer,' gitu. Oh enggak, ya," tegas Hanung saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).
Sutradara 50 tahun ini menjelaskan bahwa fokus cerita adalah kejadian di sebuah desa, bukan peristiwa sumur maut yang menjadi ikon sejarah 1965.
| Baca Juga: Baskara Mahendra Ubah Cara Jalan dan Hitamkan Kulit Demi Peran Film Lobang Buaya
"Ini film horor. Memang kami menuturkan kisah satu tahun sebelum 30 September. Tapi sebetulnya ini tidak bicara tentang peristiwa yang ada di Lubang Buaya, tapi ini kejadian pada satu Desa bernama Lobang Buaya," tambahnya.
Trauma Masa Kecil dan Rasa Penasaran
Ketertarikan Hanung terhadap tema 1965 bukan tanpa alasan. Ia mengaku memiliki trauma dan kenangan masa kecil yang sangat lekat dengan tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari ulang tahunnya sekaligus Hari Kesaktian Pancasila.
"Secara pribadi, saya memiliki kedekatan emosional dengan sejarah ini. Saya lahir pada tanggal 1 Oktober 1975. Ketika saya berusia 10 tahun dan hendak merayakan ulang tahun, saya melihat bendera di Indonesia berkibar setengah tiang," jelas Hanung.
"Saya bertanya kepada ibu saya, 'Kenapa setiap saya ulang tahun, benderanya setengah tiang dan suasananya seperti berkabung?' Ibu saya menjawab bahwa 10 tahun sebelumnya telah terjadi pemberontakan oleh PKI," sambungnya.
| Baca Juga: Rein, Penyandang Disabilitas Yang Menemukan Jalan Dari Musik ke Akting Lewat Film Istimewa
Seiring bertambahnya usia, pandangan Hanung terhadap sejarah tersebut mulai berkembang lewat literatur yang lebih luas. Doktrin saat itu menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang jahat, tidak bertuhan, dan suka menyiksa.
Namun, seiring ia dewasa dan mulai membaca banyak buku, Hanung menyadari bahwa horor yang terjadi ternyata lebih luas dari sekadar doktrin tersebut.
"Ada pembantaian massal yang luar biasa di Bali, Jawa Timur, Kediri, Jawa Tengah, hingga Sumatera. Korbannya bukan hanya tujuh perwira, tapi juga banyak masyarakat sipil. Ini adalah teror yang nyata. Itulah mengapa saya ingin membuat film horor sejarah," beber sutradara Ipar Adalah Maut.
Alasan Memilih Genre Horor: Risiko Politik dan Pasar Global
Sebelum resmi diproduksi, proyek film ini sempat dipresentasikan di festival film internasional seperti Rotterdam International Film Festival di Eropa dan BIFAN di Korea.
Banyak pihak luar yang mempertanyakan mengapa isu sejarah seserius ini dikemas dalam bentuk horor fiksi, bukan dokumenter. Menjawab hal tersebut, Hanung mengakui adanya risiko besar jika memaksakan genre sejarah murni.
"Jawaban saya sederhana: karena situasi di negara saya saat ini. Membuat film sejarah yang sangat jujur mengenai peristiwa tersebut masih sangat riskan dan berpotensi menimbulkan kontroversi yang besar," jelas suami Zaskia Adya Mecca ini.
"Bukannya diapresiasi, nanti malah bisa memicu kegaduhan. Itulah sebabnya, dalam film ini saya mencoba mengemasnya sebagai fiksi dengan balutan genre horor," ungkapnya jujur.
Lobang Buaya dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga aktor kawakan Mathias Muchus.
| Baca Juga: Reuni dengan Sutradara Squid Game, Lee Byung-hun Bintangi Film Layar Lebar 'K.O. Club'
Film yang bakal 1 Oktober 2026 ini berkisah tentang setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap para tokoh desa.
Korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.
Saat rumor mengenai "Hantu Bolong" merebak dan tensi sosial kian memanas, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus mencari tahu dalang pembantaian tersebut.
Namun, teror tidak berhenti di situ. Istri baru Soegeng, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan.
Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng membuka tabir bahwa kekacauan di desa maupun di rumahnya bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap berbahaya yang sengaja dirancang untuk mengubah arah sejarah. (*)







