Teknologi Bayi Tabung Makin Canggih, tetapi Usia Tetap Jadi Penentu Utama
Prof. Budi menjelaskan bahwa usia biologis ovarium tidak selalu sama dengan usia di kartu identitas. "Ada yang usia kronologisnya 35 tahun, tetapi kondisi biologis ovariumnya seperti 42 tahun. Ada juga yang cadangan telurnya masih sangat baik," katanya.
Salah satu alat ukur yang digunakan adalah kadar Anti-Mullerian Hormone atau AMH, yang ia ibaratkan seperti rem pada mobil untuk menilai cadangan sel telur.
| Baca Juga: Mendengarkan Sinyal Tubuh: Kunci Deteksi Dini Kanker dan TBC
Teknologi AI kini juga mulai berperan dalam membaca pola perkembangan embrio dari data time-lapse incubator. Meski begitu, Prof. Budi menegaskan keputusan akhir tetap ada di tangan dokter.
"AI will not replace the doctor. However, the doctor who does not use AI will be replaced soon (AI tidak akan menggantikan dokter. Tetapi, dokter yang tidak menggunakan AI lambat laun akan digantikan)," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak selalu menyalahkan perempuan ketika pasangan belum memiliki anak. Faktor laki-laki menyumbang sekitar 35 persen penyebab gangguan kesuburan.
"Never touch the woman before you check the man. Jangan sentuh perempuan sebelum memeriksa laki-laki," katanya. Kualitas sperma sendiri terbentuk dari kebiasaan hidup dalam dua bulan terakhir, termasuk kebiasaan merokok dan paparan panas berlebihan di sekitar area testis.
| Baca Juga: Sering Kretek-Kretek Jari Tangan, Benarkah Bikin Sendi Sakit?
Perubahan sosial turut memengaruhi angka kelahiran. Usia pernikahan perempuan Indonesia kini rata-rata berada di kisaran 29 sampai 30 tahun, lebih tua dibanding generasi sebelumnya.
Total fertility rate Indonesia berada di angka 2,13, sementara di Jakarta hanya 1,7. Prof. Budi menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak usia sekolah agar generasi muda memahami batas biologis tubuh mereka.
Setelah embrio ditanamkan, pasangan harus menunggu sekitar 14 hari untuk mengetahui hasil kehamilan. Prof. Budi tidak menganjurkan pasien melakukan bed rest berlebihan.
"Tidak perlu bed rest. Jangan bed rest. Aktivitas seperti biasa saja. Studi menunjukkan pasien yang bed rest justru bisa semakin banyak mengumpulkan stres," ujarnya. Dukungan keluarga selama masa penantian ini disebut penting untuk menjaga kondisi emosional pasien.







