Teknologi Bayi Tabung Makin Canggih, tetapi Usia Tetap Jadi Penentu Utama
| Baca Juga: Dari Benjolan hingga ASI Belum Keluar: Ini Penjelasan Medis yang Perlu Diketahui Ibu Menyusui
Prof. Budi juga menceritakan kisah pasangan yang menjalani pencarian jawaban infertilitas selama sembilan tahun, hingga akhirnya hanya tersisa satu embrio sehat yang kemudian berkembang menjadi kehamilan.
Baginya, kisah ini menunjukkan bahwa dalam program fertilitas, satu embrio yang sehat bisa jauh lebih berarti daripada banyak embrio yang tidak berkualitas.
Di Indonesia, donor sel telur atau sperma serta praktik ibu pengganti (surrogate) tidak diperbolehkan dalam program bayi tabung. Embrio yang tersimpan juga harus dimusnahkan apabila pasangan bercerai atau suami meninggal dunia.
Pada akhirnya, menurut Prof. Budi, kecanggihan teknologi tidak mengubah fakta bahwa waktu reproduksi memiliki batas. Karena itu, pemeriksaan fertilitas sebaiknya tidak menunggu bertahun-tahun, agar pasangan memiliki lebih banyak pilihan penanganan sejak dini. (*)







