Gangguan itu diduga turut memengaruhi fungsi kardiovaskular hingga berujung pada kematian.

Sampurna Bukan Satu-satunya Orangutan Terdampak

Kasus ini memperlihatkan bahaya karhutla bagi orangutan tidak selalu berupa api yang membakar tubuh. Asap pekat dan hilangnya habitat juga bisa membuat satwa keluar dari wilayah alaminya.

Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (1/9/2026), seekor orangutan bernama Mama Yuni bersama dua anaknya, Yuni dan Pura, sebelumnya dievakuasi dari Desa Tanjungpura, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, karena kebakaran mengancam habitat serta memutus jalur pergerakan mereka.

| Baca Juga: Kenapa Kucing Bisa Menemukan Jalan Pulang? Ini Rahasia Kemampuan Navigasinya

Bahkan, ketiganya bukan satu-satunya satwa yang harus dievakuasi di Ketapang. Satwa lain juga dipindahkan untuk menghindari ancaman kebakaran.

Asapnya Bahkan Menyeberang Negara

Dampak karhutla kali ini juga tidak berhenti di Kalimantan. Pada akhir Agustus hingga awal September 2026, kabut asap dari kebakaran di Indonesia dilaporkan mencapai Filipina dan Malaysia.

Dilansir dari ABS-CBN pada 31 Agustus 2026, melaporkan asap kebakaran Indonesia terbawa angin menuju Filipina dan berpotensi bertahan selama beberapa hari.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa luasnya dampak kebakaran. Bagi satwa seperti Sampurna, ancamannya bahkan bisa datang tanpa harus bersentuhan langsung dengan kobaran api. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: