Cerita di Balik Kebaya Resepsi Tunku Aishah Johara, Sarat Tradisi dan Sejarah
VIVIA MEDIA — BRAy YM Tunku Aishah Johara Binti Tunku Abu Bakar dan Muhammad Idris Ismail Yahya menggelar resepsi penikahan meriah di Pura Mangkunegaran, Solo, pada 29 Agustus 2026.
Resepsi mereka menyita perhatian publik, bukan hanya dari rangkaian acara yang kental tradisi perpaduan Melayu dan Jawa, tetapi juga busana yang dikenakan oleh kedua mempelai.
Sebagai informasi, Tunku Aishah Johara merupakan putri dari GRAy Retno Astrini, putri KGPAA Mangkunegara VIII, dan YBM Tunku Abu Bakar Ibni Tunku Abdul Rahman dari keluarga diraja Kesultanan Johor.
Sedangkan Muhammad Idris Ismail Yahya merupakan putra dari Datuk Yahya Jaafar dan Datin Suraiya Hassan.
| Baca Juga: Fashion Fails! Intip Busana Terburuk Selebriti di Final Piala Dunia 2026

Di hari spesialnya, Tunku Aishah tampil memesona dalam balutan kebaya berwarna coral rancangan desainer kenamaan Tanah Air, Didiet Maulana.
Kebaya bergaya kutubaru itu dihiasi dengan panel tengah yang mempertahankan bentuk kutubaru klasik. Potongan kebaya yang memanjang memberikan kesan anggun dan jenjang pada tubuh pengantin.
Didiet Maulana menjelaskan, ia memberikan sentuhan detail payet kristal tiga dimensi bernuansa coral, champagne, dan emas untuk menghadirkan permainan tekstur dan kilau yang elegan.

| Baca Juga: Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya
Kebaya tersebut dipadukan dengan kain batik klasik Cinde sutra berpradan emas yang diwarisi Tungku Aishah secara turun temurun dari keluarganya.
Dulunya, kain itu juga dikenakan oleh ibundanya, GRAy Retno Astrini ketika menikah dengan sang suami, YBM Tunku Abu Bakar Ibni Tunku Abdul Rahman, pada 1990 silam.

Penampilan Tungku Aishah disempurnakan dengan makeup flawless, paes Solo Putri, serta aksesori berupa kalung dan anting-anting yang berhiaskan berlian.
1 2







