Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Tampilan perdana (first look) proyek adaptasi drama Korea Descendants of the Sun (DOTS) versi Indonesia serta penayangan teaser singkat di ajang IdeaFest 2026.

Meski belum boleh dipublikasikan, teaser singkat itu berisi potongan adegan film yang menampilkan pemeran utamanya, Reza Rahadian sebagai Baskara (versi Kapten Yoo Si-jin) dan Dian Sastrowardoyo memerankan Alya karakter dokter (versi Kang Mo-yeon).

Meski disambut antusias, penunjukan Reza Rahadian memicu gelombang perdebatan di media sosial. Penunjukan Reza Rahadian sebagai Kapten Yoo Si-jin versi lokal memicu pro dan kontra yang tajam di kalangan warganet.

Sebagian penonton menyayangkan keputusan tim produksi karena menganggap wajah Reza terlalu sering muncul di berbagai film Indonesia, sehingga memicu rasa jenuh.

| Baca Juga: Ada Dian Sastrowardoyo, Hanung Bramantyo Bagikan First Look Film 'Descendant of the Sun’

Selain isu frekuensi tampil, fisik dan vibe militer Reza juga menjadi sorotan.

Sejumlah penggemar versi aslinya menilai karakter Kapten Yoo Si-jin—yang aslinya diperankan oleh Song Joong-ki—kurang pas jika diperankan oleh Reza.

Nama aktor lain, seperti Herjunot Ali, sempat disuarakan oleh netizen sebagai kandidat yang dianggap lebih mendekati bayangan visual karakter tersebut.

Jawaban Terhadap Kritik dan Isu Diversitas

Menanggapi kegaduhan di media sosial, Reza Rahadian memberikan pernyataan terbuka. Ia mengaku sangat menghargai opini publik sebagai bagian dari dinamika industri film, terlebih untuk karya yang diadaptasi dari judul fenomenal.

| Baca Juga: Serial ‘Harry Potter’ Perkenalkan Pemeran Ginny Weasley Baru dan Tom Riddle Muda

"Publik tentu punya hak untuk berpendapat. Saya rasa apa pun komentarnya," kata Reza Rahadian saat ditemui di JHCC, kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).

Aktor peraih Piala Citra itu melanjutkan, pendapat cocok atau tidak cocok dalam penetapan jajaran pemain adalah hal biasa dalam industri film.

"Apalagi ketika sebuah karya diadaptasi dari karya dan aktor yang fenomenal," sambung Reza.

Lebih lanjut, aktor berusia 39 tahun ini mengajak publik untuk melihat proyek ini dari sudut pandang lokalisasi dan keberagaman. Ia memberikan perumpamaan jika film ini diadaptasi di negara lain dengan latar budaya yang berbeda.

| Baca Juga: Spider-Noir Dibatalkan Prime Video Setelah 1 Musim, Padahal Raih 11 Nominasi Emmy Awards

"Bayangkan jika film ini dibuat di India, misalnya. Bayangkan jika film ini diadaptasi di dunia Arab, atau di Afrika. Tentu akan ada tipe aktor yang berbeda," jelas Reza.

Adaptasi sebuah karya di negara tertentu lanjut Reza, pasti akan ada pemain-pemain yang beragam bentuknya, warna kulitnya, dan lain-lain untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada di film tersebut.

"Jadi buat saya, ini adalah sebuah bentuk keberagaman (diversity), dan kita sekarang sedang melokalisasi hal itu serta merayakan keberagaman kita," tegasnya.

Persiapan Fisik dengan Pengawasan Profesional

Untuk mendalami peran sebagai Baskara, seorang perwira militer, Reza tidak hanya mengandalkan kemampuan akting. Ia dan jajaran pemain lainnya menjalani pelatihan militer intensif yang difasilitasi oleh tim produksi Dapur Film bekerja sama dengan pihak TNI Angkatan Darat.

| Baca Juga: 18 Tahun Jadi Sorotan, Afgan Syahreza Akui Pernah Jenuh Jadi Artis

"Sama selain workout, kami ada persiapan latihan juga untuk military language. Jadi persiapan itu disiapkan oleh tim produksi juga di Dapur Film. Kami disiapin benar-benar bagaimana sistem komando itu berjalan, bagaimana kemudian istilah-istilah, menembak itu juga ada pelajaran sendiri," jelas Reza.

Persiapan ini dilakukan dalam durasi yang cukup panjang, mencakup sesi reading skenario yang intensif sebelum proses syuting dimulai. Tim produksi memastikan setiap detail teknis militer, mulai dari sikap sempurna hingga penggunaan senjata, dilakukan secara akurat.

Salah satu aspek yang paling menonjol dari penampilan terbaru Reza Rahadian adalah perubahan fisiknya. Berbeda dengan peran-peran sebelumnya, kali ini Reza harus menjalani program peningkatan massa otot atau bulking.

"Justru menaikkan berat badan, supaya bisa bulk," kata Reza menanggapi pertanyaan mengenai target fisiknya.

| Baca Juga: 'GJLS' Kembali ke Layar Lebar, 'Berapi-Api' Jadi Pemadam Kebakaran

Reza mengungkapkan bahwa ia menjalani rutinitas fisik yang sangat disiplin selama dua bulan penuh. Setiap harinya, ia harus membagi waktu antara latihan di sasana kebugaran dan pendalaman naskah.

"Tentu latihan fisik adalah latihan yang panjang, hampir sekitar 2 bulan, intensif, 5 kali seminggu workout. Itu saya lakukan setiap hari dari jam 07.30 sampai jam 09.30 pagi, karena jam 10.00-nya akan lanjut reading sampai jam 03.00 sore. Ya sudah, hari-hari saya begitu saja selama persiapan," jelasnya.

Menonjolkan Sisi Kerapuhan Sang Kapten

Di balik seragam militer dan latihan fisik yang keras, sutradara Hanung Bramantyo menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam karakter Baskara. Reza menjelaskan bahwa ada arahan khusus untuk tidak hanya menampilkan sosok tentara yang tangguh secara lahiriah, tetapi juga memiliki kedalaman emosi.

"Ada esensi penting yang Mas Hanung juga utarakan kepada saya, bagaimana kemudian tokoh ini tuh punya vulnerability-nya sendiri, punya kerapuhannya juga. Jati dirinya itu harus tercermin di sorot matanya, di scene-scene tertentu yang mungkin nanti mudah-mudahan teman-teman juga bisa lihat dan nikmati," pungkas Reza.

| Baca Juga: Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival 2026

Secara garis besar, cerita adaptasi ini mempertahankan inti kisah aslinya yang berfokus pada romansa antara seorang anggota militer dan tenaga medis.

Cerita bermula dari pertemuan antara seorang dokter Alya, sosok wanita yang cerdas yang menghadapi tekanan sosial di usia rentan untuk segera menikah, dengan seorang pria yang giat mengejar karier di dunia militer dengan pangkat yang dilematis, Kapten Bhaskara atau Ara.

Hubungan keduanya diwarnai perbedaan prinsip dan tugas profesional. Di satu sisi, dokter bertugas menyelamatkan nyawa, sementara di sisi lain, tentara dihadapkan pada tugas yang keras. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: