Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Dian Sastrowardoyo berbicara kepada awak media usai menyaksikan cuplikan perdana (trailer) film terbarunya, adaptasi serial drama Korea Descendants of the Sun (DOTS) versi Indonesia.

Dalam proyek arahan sutradara Hanung Bramantyo ini, Dian memerankan tokoh utama bernama Dokter Alya atau Cahaya Diandra.

Cuplikan tersebut menampilkan adegan-adegan intens saat Dian menangani korban perang di sebuah pulau terpencil, serta ketegangan emosional yang melibatkan lawan mainnya, Reza Rahadian, yang berperan sebagai Kapten Bhaskara atau Ara.

Setelah melihat dirinya beraksi di layar lebar untuk pertama kalinya, Dian mengaku sangat terkejut dengan hasil akhir yang disajikan. Baginya, visual yang dihasilkan jauh melampaui apa yang ia bayangkan selama proses syuting yang melelahkan.

| Baca Juga: Banjir Kritik Netizen Soal Perannya di Film DOTS, Reza Rahadian Akhirnya Buka Suara

"Jujur saja ini jauh melebihi ekspektasi aku sendiri. I was so overwhelmed. Ternyata wow, se-epik itu ya, Mas Hanung," ujar Dian Sastrowardoyo saat ditemui di JHCC, kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).

Aktris 44 tahun ini menjelaskan bahwa selama proses pengambilan gambar, dirinya hanya fokus pada pekerjaan harian tanpa bisa memvisualisasikan hasil akhirnya secara utuh.

"Aku pas syutingnya benar-benar fokus sama day-to-day sampai enggak kebayang ini jadinya kayak gimana gitu. Jadi pas sudah teredit seperti ini, oh, kok jadi besar ya filmnya? Kayak gitu. Pas lagi syutingnya cuma mikirin capeknya aja ya, pas sudah jadi tahunya bagus banget," tambahnya.

Dokter Penyelamat yang Teguh pada Prinsip

Dalam film ini, Dian memerankan dokter Cahaya Diandra, seorang tenaga medis profesional yang dikenal memiliki kemampuan bedah luar biasa di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia mendeskripsikan karakter Alya sebagai sosok penyelamat dalam situasi operasi yang kritis.

| Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Siap Obati Rindu Penggemar Lewat Proyek Baru Film Pendek 'AADC'

"Si dokter Alya atau dokter Cahaya Diandra ini termasuk dokter yang paling jago di rumah sakitnya. Jadi kalau ada dokter lain yang cuma gaya doang terus akhirnya ujung-ujungnya pas operasi enggak bisa nerusin, dia yang step up," papar Dian.

Kemampuan teknis yang tinggi menuntut Dian untuk tampil dengan kepercayaan diri yang maksimal di depan kamera.

"Dia tuh kayak sudah terkenal dia yang akan nyelesaiin gitu. Jadi I have to look like I’m good at it, jadi kayak yakin banget nih, pede. Jadi itu juga a lot of confidence yang harus dibangun," tegasnya.

Pelatihan Medis Intensif dan Paham Terminologi Kedokteran

Demi menghidupkan karakter dokter bedah secara akurat, bintang film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini harus menjalani serangkaian persiapan teknis yang sangat berat. Ia melibatkan narasumber ahli medis untuk mempelajari prosedur operasi yang nyata.

| Baca Juga: Berusaha Dobrak Stigma Genre Horor, Film ‘Obsession’ Diprediksi Borong 15 Nominasi Oscar

"Ya, jadi reading dan kalau aku kan harus belajar jadi dokter ya, dokternya dokter bedah lagi. Jadi kita tuh ada narasumber dokter yang kemudian melatih kita untuk paham terminologi-terminologi kedokteran pada saat operasi, apa dulu gitu," jelas Dian mengenai tahap persiapannya.

Ibu dua anak ini dituntut untuk menghafal alat-alat bedah dan urutan penggunaannya agar tidak terlihat kaku di meja operasi.

"Belajar prosedur operasi itu gimana, jadi kita kayak harus membayangkan kita operasi: klem dulu, apa pinset, pokoknya macam-macam ya. Dan itu kita harus benar-benar berakting semacam kita dokter beneran, padahal kan enggak ya," ungkapnya.

Membangun Muscle Memory di Meja Bedah

Tantangan tersulit bagi bintang film Esok Tanpa Ibu ini bukan hanya menghafal dialog, melainkan melatih gerakan tubuh atau muscle memory agar terlihat seperti dokter bedah berpengalaman yang telah praktik bertahun-tahun. Ia bahkan belajar cara menjahit luka menggunakan alat bedah asli.

| Baca Juga: Sineas Indonesia Berduka, Sutradara-Penulis Skenario Ida Farida Berpulang

"Nah, itu yang lumayan jadi pengetahuan baru sih, kita jadi belajar menjahit, belajar jahit luka pakai jarum jahit operasi, pakai benang jahit operasi. Susah banget lagi," kenangnya.

"Jadi itu kan dokter-dokter bedah itu kan sudah bertahun-tahun tuh, mereka memang sudah kayak hafal luar kepala, tangannya tuh muscle memory," imbuh Dian.

Bintang film Pasir Berbisik ini juga harus menunjukkan kefasihan saat berinteraksi dengan asisten bedah di dalam set operasi tanpa harus melihat alat yang diberikan.

"Kita harus mencoba melatih jari kita juga supaya kelihatan sangat fasih gitu, pegang-pegang alat-alatnya enggak boleh salah. Jadi kalau minta gitu, langsung dikasih sama suster langsung alatnya terus langsung sep, langsung dipegang. Kita enggak boleh melihat susternya, benar-benar harus cuma lihat si luka operasi yang terbuka itu," lanjutnya lagi.

| Baca Juga: Enzy Storia Kenang 16 Tahun Jatuh Bangun di Industri Hiburan

Disiplin Steril di Ruang Operasi

Selain teknis bedah, Dian juga mempelajari etika dan prosedur kesterilan di dalam ruang operasi. Hal-hal detail seperti posisi tangan sangat diperhatikan agar adegan terlihat autentik bagi penonton, terutama bagi kalangan medis yang menonton.

"Terus bagaimana tangan di operasi tuh enggak boleh ada yang turun karena ya sudah kena debu, jadi kita semua harus naik semua tangannya. Dan itu tuh melatihnya agak susah karena itu muscle memory ya," kata Dian.

Dian menyamakan persiapan aktingnya kali ini dengan latihan fisik yang menguras tenaga namun spesifik pada profesi tertentu.

"Jadi kita kayak seperti latihan fisik, tapi tuh kayak latihan kegiatan fisiknya dokter operasi gitu," pungkasnya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: