Musikal Absurd Diperpanjang Jadi 90 Menit, Angkat Tema Kehilangan Arah Hidup Lewat Komedi
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Pertunjukan Musikal Absurd: Hidup Segan But I'm Not Done kembali digelar dengan durasi yang diperpanjang dari 45 menit menjadi 90 menit, disertai penambahan karakter baru dalam cerita. Perpanjangan ini menyusul respons positif terhadap pementasan sebelumnya di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada November 2025.
Cerita berpusat pada Vina Panduanidup, perempuan 29 tahun yang bekerja di Jakarta dan mulai kehilangan makna dari rutinitas hariannya.
Alih-alih menghadirkan drama serius, persoalan itu dibawa ke dunia absurd yang dihuni makhluk-makhluk khayalan, lengkap dengan musik, tarian, dan humor sebagai cara mendekati tema berat tanpa kesan menggurui.
Karakter-karakter dalam cerita ini sebelumnya dikenal lewat karya visual ilustrator Michelle Sherrina atau Sherchle, yang muncul dalam bentuk stiker, poster, mainan, dan gantungan kunci.
| Baca Juga: Purwacarita Borobudur: Jelajah Masa Lalu Lewat AI Tanpa Mengubah Sejarah
Co-founder Jakarta Doodle Fest dan TFR News, Christine Laifa, menjelaskan bahwa karakter-karakter tersebut kemudian "dihidupkan" menjadi pengalaman pertunjukan panggung.
Menurut Christine, pementasan berbasis IP kreator sebelumnya hanya menjadi program sampingan tahunan di Jakarta Doodle Fest. "Antusiasme terhadap Musikal Absurd tahun lalu membuat tim memutuskan menjadikannya program utama," ujarnya Jumat (4/9/2026).
Dengan durasi yang lebih panjang, perjalanan Vina bisa digali lebih utuh dibanding pementasan sebelumnya yang hanya menampilkan potongan dari dunia Absurd. Penonton diajak menelusuri kembali ingatan dan pengalaman masa lalu Vina, termasuk mimpi dan kegembiraan sederhana yang pernah dimilikinya semasa kecil.
Tema inner child muncul sebagai salah satu lapisan cerita, bukan sebagai ajakan lari dari kehidupan dewasa, melainkan cara mengingat kembali keinginan dan keberanian bermimpi yang pernah dimiliki.
| Baca Juga: Pagelaran Seni dari Guruh Sukses Kumpulkan Rp200 Juta Untuk Penyintas Kanker
Founder dan Producer Jakarta Art House, Fadli Hafizan, menilai musikal ini ringan namun sarat makna karena menyentuh beban hidup yang dialami setiap orang. Ia menyebut banyak orang lupa memberi ruang untuk tertawa dan berbahagia bagi diri sendiri.
Pendekatan tersebut ditegaskan langsung oleh sutradara Aulion. "Hidup kadang terlalu absurd untuk dipahami, jadi kita nyanyikan, kita tarikan, lalu kita tertawakan," ujarnya, menggambarkan cara pertunjukan ini memandang persoalan hidup yang tidak selalu punya jawaban pasti.
1 2






